Celebgramme Jadikan Kamu Seleb di Instagram

Saya membuat account Instagram di awal tahun 2014. Saat itu saya berpikir bahwa Instagram itu adalah sosial media untuk berbagi foto-foto yang kita anggap paling keren. Karenanya kebanyakan yang saya follow adalah account para fotografer atau mereka yang hobi foto obyek-obyek menarik. Saya banyak belajar bagaimana cara mereka menentukan sudut pengambilan gambar serta pencahayaan sehingga hasil foto mereka terlihat begitu berbeda tapi tetap menarik. Account lainnya yang saya ikuti tentu saja adalah milik teman-teman, keluarga dan sahabat. Makanya selama 2 tahun berinstagram saya hanya melakukan follow ke 61 account saja.

Screenshot_2016-03-02-10-52-45

Postingan pertama saya di Instagram 25 Januari 2014

 

INSTAGRAM BERUBAH

Hingga akhir-akhir ini Instagram berubah total, ia tidak hanya menjadi ajang berbagi hasil foto dan video keren, melainkan juga menjadi ajang eksistensi diri. Tidak heran kebanyakan isi Instagram saat ini adalah berupa foto selfie atau wefie. “Penyakit” ini tidak saja menghinggapi para artis dan tokoh terkenal, tetapi juga hampir semua pengguna instagram melakukannya. Untuk yang satu ini saya seringkali melakukan unfollow kepada account-account yang masuk kategori “berlebihan” dalam melakukan sharing foto-foto semacam ini. Please deh!

Instagram juga berubah jadi pasar kaget. Ya, bahkan Kaskus dan situs online “sepertinya” kalah pamor dibandingkan Instagram dalam hal memberikan efek peningkatan penjualan. Barang yang dijual pun super lengkap, dari produk kebutuhan sehari-hari, makanan, barang elektronik, gadget, hingga kebutuhan hewan peliharaan juga ada lho! Penjual tinggal menentukan hastag yang tepat maka produk yang dijual akan segera menemukan pembeli yang tepat, demikian juga sebaliknya.

(348)

Tausiyah Cinta (2015) Ketika Cinta Menasihati Dirinya

 

id.wikipedia.org

id.wikipedia.org

Gawean” Aktivis Dakwah

Dunia seni kini tidak lagi menjadi lahan yang kering dan gersang dari kegiatan dakwah. Beberapa aktivis muda Islam dengan idealisme yang mereka pegang teguh coba membuktikan bahwa dakwah pun bisa dikemas indah melalui sebuah karya film. Tidak harus melulu takluk dengan kekuatan kapital besar yang terkadang sekalipun mengusung film bertema dakwah (islami) namun pada praktik proses pembuatannya hingga para pemilihan pemerannya jauh dari nilai-nilai Islami itu sendiri.

Bedasinema, sebagai sebuah rumah produksi yang baru hadir di dunia perfilman Indonesia, mencoba kukuh mengusung nilai-nilai Islami bahkan dari tahap pemilihan pemeran hingga pada proses syuting. Sebut saja casting yang mensyaratkan para pemeran memiliki hapalan quran, benar-benar mengenakan pakaian yang menutup aurat dalam keseharian serta beberapa parameter islami lainnya.

Begitu pula selama proses syuting. Menurut informasi yang kami dengar, tidak ada satu adegan pun yang memungkinkan terjadinya sentuhan antara pemain laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya,  juga tidak ada satu pun adegan yang memperlihatkan pemain hanya berduaan dalam satu scene. Ketika adzan berkumandang pun proses syuting akan dihentikan untuk terlebih dahulu menunaikan shalat. Subhanallah.

Tema Cinta

Tema ini dirasa masih menarik untuk penonton Indonesia. Mungkin karena memang sebagian besar penonton bioskop di tanah air berasal dari kalangan remaja. Sama dengan film reliji Indonesia lainnya, tema cinta dalam film ini juga masih berkisar pada cinta di kalangan anak muda. Agak sedikit berbeda, pada Tausiyah Cinta tema ini coba dijabarkan dalam arti yang lebih luas, yakni cinta kepada sahabat, cinta kepada orang tua, cinta kepada Tuhan, dan tentu saja juga tetap menampilkan cinta antara kasih-kekasih.

(825)

TV Digital, Gambar Bening Nggak Pake Bayar

 

ngrguardiannews.com

ngrguardiannews.com

Apa jadinya jika kita satu hari saja tidak menonton televisi? Mungkin sebagian kita akan menjawab: “Nggak bisa, nggak bisa. Can’t live without it!” Sebagian yang lain mungkin akan menjawab: “Nggak apa-apa sih, cuma seperti ada yang kurang aja”. Atau bisa juga kita akan menjawab; “Nggak apa-apa juga sih, saya memang nggak pernah nonton TV”.

Bisa jadi kita termasuk golongan yang pertama, kedua, atau ketiga. Yang pasti golongan ketiga “sepertinya” memiliki prosentase yang paling kecil, sekali lagi “sepertinya” lho ya :)

Televisi sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi masyarakat, baik kebutuhan informasi, pendidikan, dan juga hiburan. Televisi banyak manfaatnya walaupun tidak dipungkiri banyak juga mudharatnya. Tinggal pintar-pintar kita dalam memilah dan memilih tayangan sesuai dengan kebutuhan.

(1273)

Powered by WordPress | Designed by: Themes Gallery | Thanks to best wordpress themes, wordpress 4 themes and WordPress Themes Free