Sharing

Uban

October 17, 2017

Pernah nggak kamu mengalami ketika berbicara dengan orang yang baru kita kenal, mata mereka malah “mendadak fokus” ke atas kepala kita? Ngeselin nggak? Buat yang belum terbiasa pasti demikian. Awalnya saya juga begitu, tapi lama kelamaan saya sudah terbiasa. Kenapa mereka semua seperti itu? Yup, sesuai dengan judul tulisan ini karena di kepala saya telah tersembul komunitas kecil uban, tepatnya di sekitar ubun-ubun. (annoyed)

Saya sebut komunitas kecil karena mereka nggak terlalu banyak tapi berkumpul dalam satu tempat dengan begitu solidnya. Kendati jumlahnya kecil tapi warna putih di antara belantara warna hitam ya jelas-jelas sangat menarik perhatian.  

Uban di kepala saya seperti secercah cahaya di kegelapan malam. Keliatan Banget!

Kejadian itu saya alami sejak masa-masa saya di SMP. Saya nggak ingat kapan persisnya dan kelas berapa. Baik guru, kepala sekolah, mbak-mbak kantin, tukang parkir, maupun tukang sapu sekolah semua memiliki reaksi yang sama ketika bicara dengan saya.

Sebagian besar sungkan untuk membicarakan apa yang mereka lihat tersebut, namun sebagian kecil lainnya tak tahan untuk menanyakannya kepada saya : “Man, itu uban ya?”.

Dalam hati saya menjawab : “Menurut lo?” hehehe.

Hal ini pernah saya tanyakan juga ke beberapa dokter. Umumnya mereka menyatakan hal tersebut bukanlah kelainan. Namun mereka sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa ini bisa terjadi di usia muda.

Ini kondisi rambut saya ketika awal memasuki dunia kerja :)

Memiliki dua warna rambut di usia belia tidak lagi mengusik saya hingga saya SMA dan kuliah. Namun ketika memasuki dunia kerja saya sudah mulai memikirkan tentang penampilan saya (tongue) . Mulai saat itulah saya berkenalan dengan pewarna rambut.  (dance)

Hingga pada suatu hari seorang teman berkata “Man, kan nggak boleh mewarnai rambut dengan warna hitam.” Lontaran kalimat ini tiba-tiba menohok saya.

Hampir saja saya mau balik bertanya : “Jadi menurut kamu saya cat pakai warna ungu atau pink gitu?”. Untungnya pertanyaan itu saya teriakan cuma dalam hati. Sabar… eh tapi jadi galau.  (tears)

Khawatir dengan adanya larangan mewarnai rambut dengan warna hitam dalam agama yang saya anut, saya pun mengkonsultasikannya dengan salah seorang ustadz. Alhamdulillah jawaban beliau sangat melegakan saya. Menurut beliau hal ini tidak mengapa dilakukan oleh saya karena saat itu saya masih dalam usia muda yang belum saatnya memiliki uban. Alhamdulillah. Nggak galau lagi. (applause)

Dan ketika tiba hari ini ketika saya memang telah memasuki usia yang nggak muda lagi, saya mulai terpikir lagi tentang rutinitas mewarnai rambut saya ini: “emang di usia segini masih boleh ya mewarnai rambut dengan warna hitam?”

“Man, di usia segini memang masih boleh ya mewarnai rambut?” Pertanyaan yang selalu mengHANTUi saya

Jadi gimana ya man-teman. Apa saya biarkan saja ya uban-uban itu eksis di kepala saya? Atau saya tetap mewarnai rambut saya tapi bukan pakai warna hitam? #eh

Untuk informasi, saat ini posisi uban-uban ini sudah cukup menyebar secara merata di kepala saya hehehe. Maacih ya man-teman sebelumnya  (hassle)

(41)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)