Review

Review Film Duka Sedalam Cinta (2017)

October 25, 2017

Bagi pecinta cerpen Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) kehadiran filmnya yang tayang tahun lalu tentulah sangat dinantikan. Setidaknya Film KMGP yang tayang 21 Januari 2016 lalu telah berhasil meraih sekitar 147.053 penonton. Film yang berakhir dengan ending yang menggantung ini bisa dipastikan akan dibuat sekuelnya. Dan memang benar, sekuel film ini pun tayang sejak 19 Oktober yang lalu dengan judul Duka Sedalam Cinta.

Namun timbul pertanyaan saya ketika mengetahui jumlah bioskop yang menayangkan film Duka Sedalam Cinta ini yang “sangat-sangat sedikit”. Sebagai informasi hanya ada 2 bioskop yang menayangkan film ini di Jakarta, yakni satu bioskop di jaringan 21 dan satu bioskop lagi di jaringan CGV. Hal ini sangat aneh buat saya mengingat film pertamanya tidak bisa dibilang gagal karena berhasil meraih penonton cukup baik.

DEJA VU?

Menyaksikan Duka Sedalam Cinta di menit-menit pertama saya seperti deja vu, sebab banyak sekali adegan yang ditampilkan sama persis dengan Film Ketika Mas Gagah Pergi. Saya memaklumi hal ini karena memang toh film ini merupakan film sekuel kan?

Tapi ketika memasuki pertengahan film, bahkan hingga menjelang film selesai, adegan-adegan di film pertama terus bermunculan kembali di film ini. Saya rasa porsinya bisa mencapai 25-30% dari total adegan. Terus terang ini buat saya sangat mengganggu.

Memang sangat lazim sebuah film sekuel akan menampilkan “beberapa” adegan dari film sebelumnya, biasanya adalah merupakan “golden scene“, dengan tujuan untuk mengingatkan penonton. Sayang sekali di film ini saya merasa porsinya sudah agak berlebihan.

wowkeren

SEKUEL ATAU REMAKE?

Selesai menyaksikan film ini saya jadi agak bertanya-tanya mengenai posisi Film Duka Sedalam Cinta ini, apakah ini merupakan film lanjutan (sekuel) atau film yang dibuat ulang (remake) dari Film Ketika Mas Gagah Pergi? Sebab cerita dalam film ini benar-benar mengulang dari awal. Bedanya adalah dalam film ini tidak lagi ditampilkan adegan yang detail dan mendalam.

Dalam film ini kita tidak lagi menyaksikan bagaimana akrabnya Gita dan Gagah sebelum akhirnya Gagah berubah menjadi lebih islami (hijrah), atau apa saja perubahan yang terjadi pada Gagah hingga Gita merasa sangat kehilangan sosok Mas Gagahnya yang dulu. Penonton seolah dituntut untuk sudah memahami dan mengetahuinya.

Sepertinya film ini memang dibuat khusus untuk penonton yang sudah menyaksikan film pertama. Tapi jika memang demikian, lantas kenapa banyak sekali adegan film pertama yang kembali ditampilkan di film ini? Dan kenapa pula harus kembali bercerita dari awal?

Jika film ini memang berdiri sendiri mengapa tidak ada adegan-adegan detail yang mengisahkan bagaimana kedekatan hubungan Gita dan Gagah sebagai adik-kakak ketika sebelum dan sesudah Gagah hijrah. Detail perubahan apa saja yang terjadi pada Gagah sama sekali tidak ditampilkan. Padahal ini adalah “ruh” dan sekaligus nyawa dari film ini.

Ini bagi saya agak membingungkan.

ALUR MAJU-MUNDUR

Cerita dimulai ketika Gagah menyelesaikan tugas kuliahnya di Halmahera Selatan, di mana Gagah bertemu dengan Kyai Gufron yang akhirnya membuat kehidupan Gagah berubah. Cerita mengalir menggambarkan bagaimana Kyai Gufron memperkenalkan Islam kepada Gagah. Selain Kyai Gufron ada juga sosok Yudhi yang akhirnya menjadi teman dekat Gagah selama di sana. Yudhi tidak lain adalah merupakan adik kandung dari Kyai Gufron.

Kemudian muncul sosok Gita di masa kini yang sangat terpukul dengan Gagah yang berubah setelah pulang dari Halmahera Selatan. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di antara keduanya digambarkan secukupnya. Penonton “dianggap” telah memahami ini karena telah ada dalam film pertama.

Gagah masa kini juga mulai ditampilkan dengan aktifitasnya yang baru, aktifitas kebaikan selepas hijrah, di antaranya adalah mendirikan Rumah Cinta. Rumah Cinta digambarkan mampu meluluhkan hati beberapa preman di sana karena mampu memberikan pendidikan dan pencerahan bagi anak-anak jalanan yang putus sekolah di lingkungan tersebut.

Kemudian adegan berpindah kembali ke masa Gagah di Halmahera selatan. Dilanjutkan dengan waktu saat ini, kembali lagi ke Halmahera dan seterusnya. Flash back yang berulang-ulang dan terus menerus ini membingungkan penonton. Sosok Yudhi yang diceritakan akhirnya pindah ke Jakarta pun membuat kita bingung, karena sesaat  Yudhi digambarkan sedang berada di Halmahera, namun sesaat kemudian dia ada di Jakarta.

Editing film ini nampaknya harus lebih halus lagi dalam mengikuti nalar penonton. Saya pribadi yang memahami cerpen, novel, serta sudah menonton film pertama saja masih bingung dibuatnya.

KARAKTER

Karakter Gagah (Hamas Syahid) masih agak “menggantung di langit”. Gagah yang ditampilkan dalam film ini seolah kehilangan pijakan di bumi. Hal ini dilengkapi dengan kemampuan akting Hamas Syahid yang masih kaku. Hamas masih gamang untuk sekedar berekspresi senang, terharu, bangga, atau pun sedih. Sebagai contoh dalam adegan Gagah tengah mengajar anak-anak bermain rebana di tepi pantai, di sana digambarkan bagaimana Gagah sama sekali tidak terlihat ngeBlend dengan anak-anak asuhnya. Terlihat ada jarak antara mereka dan Gagah. Kita harus melihat ekspresi datar Hamas di sepanjang film ini. Sayang sekali, padahal ia adalah salah satu tokoh kunci yang seharusnya bisa menghidupkan film ini.

Berbeda dengan Aquino Umar yang berhasil menghidupkan sosok Gita, adik kandung Gagah. Aquino atau Inoy ini mampu menghadirkan sosok Gita yang begitu manja, percaya diri, meledak-ledak, sekaligus cerdas. Inoy pun sangat sukses mengekspresikan rasa cintanya pada kakak kandungnya satu-satunya itu. Akting Inoy sangat natural dan enak dilihat. Inoy berhasil menyelamatkan film ini untuk sedikit memiliki “ruh kehidupan”.

Sosok Yudhistira atau Yudhi sama dengan Hamas. Karakternya tidak hidup dalam film ini. Masaji Wijayanto pun gagal mengeksekusinya dengan baik. Walhasil Yudhi seperti sedang melatih hapalan dialog ketika tampil di film ini. Setiap kata yang ia ucapkan seolah tidak berasal dari hatinya. Padahal sosok Yudhi adalah satu dari 3 tokoh utama yang seharusnya ditampilkan dengan cemerlang.

Fredy Aryanto masih kurang berhasil dalam menghidupkan tiap tokoh dalam film ini melalui garapan naskah yang ia buat. Dari tiga karakter utama hanya karakter Gita yang terasa hidup. Gagah, Yudhi dan Gita seharusnya ditampilkan secara utuh dan hidup, bukan hanya potongan-potongan karakter yang tidak punya bentuk.  Ketiganya berpotensi menjadi sosok-sosok yang loveable jika saja dipoles lebih dalam lagi.

Kehadiran pemain senior seperti Wulan Guritno yang berperan sebagai Ibunda Gagah, Mathias Muchus sebagai Ayah Yudhi, serta Epy Kusnandar sebagai mantan preman yang insyaf seolah tidak mampu memberi warna yang cukup dalam film ini. Hal ini karena memang porsi adegan yang diberikan kepada mereka sangat minim.

Porsi Kyai Gufron (Ustdz. Salim A. Fillah) dalam film ini menurut saya agak berlebihan. Pesan yang ingin disampaikan tentang bagaimana seorang Kyai Gufron mampu memberikan pencerahan kepada Gagah sepertinya tidak perlu ditampilkan dalam begitu banyak adegan.

Satu hal yang membuat kaget adalah bahwa Kyai Gufron dan Yudhi adalah kakak beradik. Wow! Sangat sulit untuk diterima. Pemeran keduanya yaitu Ustadz Salim A. Fillah dan Masaji Wijayanto sama sekali tidak memiliki kemiripan secara fisik. Entah atas dasar apa keduanya dipilih.

NARASI

Narasi dalam sebuah film memang jamak ditampilkan, biasanya dia membuka sebuah adegan atau menjelaskan bagaimana suara hati dari si pencerita.

Setelah narasi biasanya film akan berlanjut dengan adegan-adegan yang menggambarkan kelanjutan dari narasi tersebut. Kita cukup menyaksikan adegan-adegan ini untuk bisa kemudian memahami apa yang ingin diceritakan dalam film. Sehingga narasi tidap perlu ditampilkan di sepanjang film.

Di Film Duka Sedalam Cinta ini narasi ditampilkan hampir di sepanjang film.

Seperti misalnya narasi dari Gagah yang menceritakan adiknya sebagai salah seorang yang sangat menginspirasi hidupnya. Menurut Gagah, Gita adalah seorang yang sangat tahu apa yang diinginkan dirinya, lugas apa adanya, serta berani mengambil keputusan. Bukankah akan lebih baik jika karakter Gita ini ditampilkan dalam adegan-adegan di film? Bagaimana visualisasi Gita dengan semua sifat yang diceritakan tadi. Bukankah akan lebih mengena bagi penonton? Ketimbang cuma narasi yang bisa saja tidak terlalu diperhatikan oleh penonton.

Selain narasi yang begitu banyak, film ini juga menampilkan narasi dari 3 tokoh, yakni Gita, Gagah, dan Yudhi. Saya merasa agak janggal sih terlalu banyak pencerita di dalam sebuah film.

TERLALU BANYAK

Ini adalah film dakwah. Karenanya tidaklah mengherankan jika film ini memuat nilai-nilai dakwah di sepanjang cerita. Wajarnya sebuah film menyampaikan satu atau dua nilai kepada penonton, dan ini ditanamkan secara konsisten di sepanjang film sehingga tertanam kuat di benak penonton. Semisal Film Negeri 5 Menara yang begitu kuat menanamkan pesan “Man Jadda Wa Jadda” yang kurang lebih artinya siapa yang sungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Dalam Duka Sedalam Cinta sebenarnya ingin menampilkan bagaimana Islam itu indah dan Islam itu cinta. Ini yang ingin coba Gagah sampaikan kepada semua orang, kepada adiknya, bundanya, kawan-kawannya dan juga lingkungan sekitar. Sayangnya pesan ini kurang digaungkan secara konsisten di sepanjang film ini. Film ini seperti ingin menyampaikan banyak hal yang akhirnya semua menjadi hadir “seadanya” tanpa meninggalkan bekas yang mendalam.

Semisal dalam adegan santunan kepada kaum dhuafa, di situ terjadi dialog antara Gagah dan Kyai Gufron tentang hakikat dalam memberi dan bersadaqoh. Adegan ini seperti berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas apa pun ke penonton, layaknya tempelan saja. Mungkin jika adegan ini dipangkas tidak akan mempengaruhi cerita sama sekali.

Atau dikisahkannya juga seorang tokoh masyarakat yang tengah menerima pengaduan dan keluh kesah dari warganya. Adegan ini tujuannya untuk apa? Seolah-olah keluar sama sekali dari konteks cerita. Ini menurut saya sama sekali tidak perlu ditampilkan.

Satu lagi. Adegan ketika Yudhi mendadak tampil di panggung dan membaca puisi. Ini acara apa? Yudhi di sana sebagai apa? Mengapa ada Gita di deretan penonton? Hingga film ini berakhir saya masih belum mampu menjawab pertanyaan ini.

DUA KEMATIAN

Jika membaca cerpen atau novel Ketika Mas Gagah Pergi kita akan memahami penyebab kepergian Gagah adalah karena kecelakaan dalam perjalanan. Namun dalam film ini penyebabnya karena adanya penyerangan dari sekelompok preman. Dalam situasi ini Gagah sebenarnya tengah bersama-sama dengan teman-temannya yang juga mantan preman, dan secara jumlah terlihat kedua pihak dalam keadaan seimbang. Jadi agak sulit diterima nalar jika dari perseteruan ini akhirnya Gagah harus pergi. Visualisasi penyerangan ini pun tidak digambarkan dengan jelas. Tiba-tiba saja Gagah harus masuk ke rumah sakit dalam kondisi yang parah.

Kematian lainnya dialami juga oleh tokoh utama kita yang lain. Dan ini lebih tragis lagi karena hanya diberitakan lewat narasi. Kematian sang tokoh yang dikisahkan adalah seorang yang sangat well educated, smart, dan open minded serta dalam usinya yang masih sangat muda ini sungguh melukai akal sehat saya. Beliau pergi dalam proses melahirkan. Andai ini dikisahkan dengan memadai pasti akan juga meninggalkan bekas yang mendalam bagi penonton, dan sayangnya ini tidak dilakukan. Walaupun tentu saja kematian adalah sepenuhnya rahasia Ilahi.

ENDING TWIST, TAPI…

Tidak seperti dalam novelnya, cerita mengalir secara berbeda. Film yang berjalan lambat dari awal hingga menjelang akhir film, tapi justru di bagian-bagian akhir ini mendadak cerita berlari cepat dan terkesan terburu-buru. Menit-menit menjelang film berakhir kita dibuat kaget dengan ending yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Twist! Tapi kok terkesan agak dipaksakan.

SINEMATOGRAFI KEREN

Sejak scene pertama film ini tampil dengan gambar yang luar biasa indah. Sinematografi film ini memang sungguh luar biasa. Keindahan alam Halmahera Selatan berhasil ditampilkan di layar, layaknya kepingan syurga di dunia. Ini adalah salah satu nilai lebih yang patut diapresiasi dari film ini.

OVERALL

Film ini penuh dengan kebaikan, dibuat dengan niat yang sangat lurus, namun sayangnya dieksekusi dengan kurang memadai. Pesan kebaikan yang bertaburan dalam film ini semoga dapat diterima dengan baik oleh penonton untuk dapat diamalkan dalam keseharian, sehingga berbuah amal jariyah bagi orang-orang yang membidani lahirnya film ini, aamiin.

Dibalik beberapa kekurangan film ini tetaplah saya rekomendasikan untuk menyaksikan film ini di bioskop. Agar ke depan film-film bertemakan kebaikan selalu dibuat dan dibuat kembali. Bagi Anda pecinta sinema islami atau penikmat film yang sarat akan makna kebaikan serta nilai-nilai keagungan moral, tentu saja Duka Sedalam Cinta ini harus masuk dalam list film yang harus disaksikan.

liputan6

(384)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)