Review

Novel Ayat-Ayat Cinta 2

December 1, 2017

Mendapatkan Novel Ayat-ayat Cinta 2 cetakan pertama bertanda-tangan Kang Abik merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Kendati sejak novel ini di tangan saya, baru 2 tahun kemudian novel ini rampung saya baca  (ninja) . Salah satu pemicu saya kembali membaca novel ini adalah kabar akan segera ditayangkannya Film AAC2 pada 21 Desember mendatang hehehe.

KISAH

Bagaimanakah kehidupan pernikahan Fahri dan Aisha setelah kepergian Maria? Pertanyaan ini pasti akan selalu menghantui dan membuat penasaran para pembaca dan pecinta novel Ayat-Ayat Cinta yang pertama. Maka hampir sudah bisa dipastikan novel kedua ini akan singgah ke tangan para pembaca novel pertamanya, entah dengan cara membeli atau pun sekedar meminjam  :-P . Selain tentu diharapkan akan mampu menggaet para pembaca baru.

Berbeda dengan novel pertama, pada novel yang kedua ini Kang Abik membawa Ayat-Ayat Cinta ke dimensi yang sama sekali berbeda. Benar, beda banget!

Pertama, tidak ada lagi sosok Fahri seorang mahasiswa “kere” yang tengah belajar di Mesir, yang ada di novel kedua ini adalah seorang Fahri yang telah bermetamorfosis menjadi seorang profesor di sebuah universitas terkemuka di Edinburgh. Tidak hanya seorang profesor, Fahri juga seorang pengusaha yang terbilang sangat sukses.

Kedua, tidak ada lagi sosok Aisha dalam novel ini. Benar, Aisha menghilang sejak kunjungannya ke Palestina dalam tujuan menulis buku. Ini terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Ketiga, Fahri banyak bersahabat dengan sosok non muslim. Sebut saja rekan kerjanya di kampus, Profesor Charlotte, juga Nenek Catarina, tetangganya yang seorang Yahudi, atau Keira tetangganya yang begitu membenci semua yang terkait dengan Islam, namun Fahri malah justru membalasnya dengan perhatian dan kasih sayang.

Keempat, Novel kedua ini tidak lagi berlatar belakang Mesir, di sini Kang Abik banyak mengeksplor Kota Edinburgh, Skotlandia dan London di Inggris.

Namun demikian, sama dengan film pertamanya, Fahri masih juga dikelilingi dengan wanita-wanita cantik yang mengaguminya. Sebut saja Brenda dan Keira yang merupakan tetangganya, Hulya yang merupakan keponakan Aisha,  Heba seorang wanita Turki yang mengenal Fahri lewat ayahnya atau Su Ju wanita berdarah Tionghoa yang menjadi mahasiswanya. Ada juga Yasmin, wanita yang “nyaris” dijodohkan dengan Fahri oleh Syekh Utsman.

Selain itu kesamaan novel pertama dan kedua adalah mengenai sosok Fahri yang masih merupakan seorang muslim yang sangat shalih dengan hati yang sangat peka dan senantiasa dipenuhi dengan cinta.

KARAKTER

FAHRI

Dalam novel ini Fahri dikisahkan telah jauh lebih matang dan lebih percaya diri. Selain memang karena secara keilmuan ia telah meraih gelar akademis tertinggi yakni seorang Profesor, Fahri pun secara ekonomi adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses. Berbagai lini bisnis yang ia jalankan berjalan dengan baik dan lancar. Lini bisnis ini ia dapatkan dari Aisha yang memang berasal dari keluarga milyuner. Dapat dikatakan Fahri adalah seorang muda yang sukses dan sempurna.

Namun di balik kesuksesannya itu, sosok Fahri sebenarnya adalah sosok yang tengah mengalami kepedihan yang mendalam semenjak ia kehilangan belahan jiwanya, Aisha. Aisha hilang ketika berkunjung ke Palestina untuk menulis bukunya yang terbaru.

Sudah hitungan tahun, berbagai macam usaha untuk menemukan Aisha telah dilakukan Fahri, namun semua usaha itu menemukan jalan buntu. Jejak Aisha seolah hilang ditelan bumi. Sejak saat itu Fahri pun hidup dalam kondisi yang sangat merana dan seolah kehilangan semangat hidup. Ia pun masih belum bisa membuka pintu hatinya bagi wanita lain. Ia mencoba menutupi kesedihannya tersebut dengan total dalam melakukan aktifitas akademis dan bisnis yang memang terbukti sukses.

SABINA

Sosok wanita berwajah buruk dan memakai cadar ini ditemui pertama kali oleh Fahri di pelataran masjid sebagai seorang peminta-minta. Sabina tidak banyak berbicara, selain suaranya yang serak dan sama sekali tidak enak didengar, ia pun seperti menyimpan masa lalu yang terlalu pedih untuk diceritakan. Padahal usianya sepertinya belumlah tua. Tidak ada yang mengetahui lebih dalam tentang Sabina. Semua hanya mengetahui bahwa ia adalah seorang wanita malang dengan status sebagai imigran ilegal di Kota Edinbrugh.

Fahri menolongnya dengan menjadikannya pelayan rumah tangga di rumahnya. Tidak ada yang menyadari bahwa sosok Sabina ini ternyata menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar.

HULYA

Sosoknya mengingatkan Fahri pada mendiang istrinya, Aisha. Hulya memilili postur tubuh, gestur dan perangai yang sangat mirip dengan Aisha. Bahkan wajahnya pun memiliki bentuk yang serupa dengan Aisha. Hulya memang adalah keponakan Aisha. Ia adalah anak dari adik ibunda Aisha. Sama dengan Aisha, Hulya juga telah mengenakan hijab dengan rapi, bedanya ia tidak mengenakan cadar sebagaimana Aisha.

Hulya memiliki kemampuan bermain biola yang sangat mumpuni. Ia dikenalkan dan diajari biola oleh Aisha. Kemampuannya ini kian terasah ketika ia berlatih bersama Keira dalam persiapan dalam salah satu lomba di kota itu.

Hulya sebenarnya memendam perasaan kepada Fahri. Seringnya mendiang Aisha bercerita betapa sempurnanya sosok Fahri membuatnya diam-diam juga mengagumi Fahri. Bahkan ia bercita-cita kelak mendapatkan seorang suami seperti Fahri. Jauh di lubuk hatinya ia rela menggantikan sosok Aisha untuk mendampingi Fahri.

KEIRA

Gadis muda asal Scotlandia ini merupakan tetangga Fahri. Ia seorang Islamophobia yang parah. Perasaan benci yang demikian luar biasa kepada Islam dan umat Islam dia rasakan sejak kematian ayahnya. Ayah Keira meninggal akibat ledakan bom yang diduga dilakukan oleh teroris muslim. Padahal ia bersama sang ayah tengah meniti jalan menuju cita-citanya menjadi seorang pemain biola profesional. Ayahnya menjanjikan selepas lulus SMA ia akan dikuliahkan di sekolah tinggi yang banyak melahirkan musisi kenamaan dunia. Sayangnya cita-citanya itu kini harus dikubur bersama jasad sang ayah. Kini ia terjebak untuk hidup bersama sang ibu yang hidupnya pas-pasan beserta adiknya yang juga tidak jelas masa depannya.

Keterpurukan Keira menemukan titik nadir ketika ia hendak melelang kesuciannya untuk biaya melanjutkan pendidikan ke sekolah musik impiannya. Hingga tiba-tiba datang malaikat penolong yang dengan tulus bersedia mengantarkan Keira ke cita-citanya untuk menjadi seorang pemain biola kelas dunia.

Kendati akhirnya jalan menuju cita-citanya tersebut mulai menemukan titik terang, kebenciannya kepada Islam tetap membara bahkan kian bertambah setiap waktunya. Kebencian ini juga membuat ia membenci Fahri, tetangganya. Kendati Fahri selalu baik kepadanya bahkan juga kepada tetangganya yang lain, di matanya itu hanyalah bentuk kamuflase belaka. Bagi Keira itu hanya usaha Fahri untuk menutupi kejahatannya sebagai seorang muslim.

PAMAN HULUSI

Hulusi adalah seorang mantan pemabuk yang nyaris mati karena dikeroyok oleh beberapa preman. Beruntung Fahri berhasil menyelamatkan nyawanya. Walaupun Fahri juga harus dirawat karena melawan para preman itu. Hutang nyawa ini menjadikan Hulusi berhutang nyawa kepada Fahri. Kondisnya yang memang hidup sebatang kara membuatnya memutuskan untuk hidup dan mengabdi kepada Fahri. Kekagumannya kepada Fahri kian hari kian bertambah. Ia banyak belajar dan mengenal keindahan Islam kepada Fahri. Tak hanya belajar tentang Islam, Hulusi pun belajar mengenai kegigihan, kedisiplinan, dan keuletan Fahri dalam mengejar segala impiannya. Hulusi lah yang paling mengetahui kedukaan yang menyelimuti tuannya itu. Setiap hari ia mendapati Fahri masih terus memikirkan Aisha dan tenggelam dalam kedukaan yang begitu mendalam.

TOKOH KUNCI

Dalam novel setebal hampir 700 halaman ini Kang Abik secara piawai menghadirkan tokoh kunci yang tidak kita sadari kehadirannya sejak awal. Tokoh kunci ini hadir hampir tanpa petunjuk sama sekali di sepanjang novel. Satu atau dua petunjuk memang ada namun dihadirkan dengan begitu samar dan cantik. Tokoh ini membuka kunci besar dalam novel ini, namun kehadirannya seolah diabaikan. Tokoh kunci inilah yang mampu menjawab misteri hilangnya Aisha.

DUH TYPO!

Tidak ada gading yang tak retak. Pada novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini saya menemukan begitu banyak typo atau kesalahan pengetikan. Novel yang ada di tangan saya ini memang merupakan cetakan pertama bulan November 2015. Seperti penulisan nama “Fahri” yang tertulis “Fahmi”, atau “Anda” ditulis dengan “ada” dll.

Saya berharap kesalahan-kesalahan minor ini telah diperbaiki di cetakan-cetakan berikutnya.

DEBAT

Salah satu bab dalam novel ini mengisahkan bagaimana Fahri diberikan kesempatan untuk berdebat dalam sebuah ajang debat berkelas internasional. Tema yang diangkat dalam debat tersebut adalah “apakah agama diperlukan bagi manusia?“.

Fahri berhadapan dengan 2 tokoh yang secara pemikiran saling berseberangan satu sama lain. Satu pembicara menyatakan bahwa semua agama adalah benar dan akan bermuara kepada Tuhan yang sama, sedangkan pembicara yang lain menyatakan bahwa manusia tidak lagi memerlukan agama dan Tuhan, ia meyakini bahwa agama hanya hadir untuk menimbulkan kerusakan bagi umat manusia. Di sini Fahri tampil dengan membawa argumen bahwa Agama dan Tuhan menjadikan umat manusia bisa hidup dengan teratur dan penuh harmoni, tentu saja dengan syarat tiap pemeluk agama dapat menjalankan masing-masing agamanya dengan taat disertai semangat bertoleransi terhadap perbedaan dengan pemeluk agama yang berbeda.

Dalam debat ini dikisahkan Fahri dapat memukau seluruh hadirin dengan semua argumennya. Bab ini mampu memberikan wawasan yang baru bagi pembaca. Sayangnya porsi argumen tiap-tiap pembicara ditampilkan secara kurang seimbang oleh Kang Abik, karena ia lebih banyak menguraikan pendapat Fahri dibanding kedua pembicara lainnya.

SARAT HIKMAH

Mengusung judul “Cinta”, novel ini mampu mengurai secara jernih tentang makna cinta yang sebenarnya. Kang Abik menterjemahkan “cinta” dalam aplikasi dan pengamalan dalam kehidupan keseharian, khususnya bagi seorang muslim. Cinta memiliki makna yang begitu universal. Konsep Islam sebagai kasih sayang bagi semesta begitu kental mewarnai novel ini.

Sosok Fahri sukses menghidupkan makna kata cinta dalam kehidupan nyata. Bagaimana ia begitu mengasihi seorang nenek beragama Yahudi, merawat dan mencurahkan perhatiannya hingga sang nenek akhirnya menghebuskan napas yang terakhir. Ia sukses melawan kebencian yang begitu membara kepadanya dengan pertolongan yang begitu tulus. Semua bara kebencian itu akhirnya luluh tersiram kasih sayang karena Allah yang ditampilkan oleh sosok Fahri.

Tak hanya bicara tentang cinta, novel ini pun banyak berbicara tentang etos kerja dan profesionalitas dalam menjalani dan menekuni sebuah usaha dan cita-cita. Fahri ditampilkan sebagai seorang pengajar yang sangat disiplin dan profesional. Dengan itu ia banyak melahirkan kesuksesan bagi mahasiswa-mahasiswanya. Di sisi lain Fahri juga seorang akademisi yang sangat aktif dalam membuat tulisan-tulisan ilmiah terstandar internasional. Banyak jurnal buatan Fahri termuat dan dipublikasikan oleh lembaga-lembaga ilmiah internasional.

Indah sekali pesan yang ingin disampaikan Kang Abik tentang kesempurnaan ajaran Islam dalam balutan kisah romansa relijius. Siapa pun sulit untuk tidak menyayangi dan mencintai sosok Fahri dalam novel ini. Bagi pembaca laki-laki sosok Fahri ini bisa menjadi contoh yang dapat ditiru dalam mengamalkan Islam dalam keseharian serta mampu mencapai sukses dalam kehidupan beriringan dengan sukses dalam beragama. Bagi pembaca wanita sosok Fahri bisa jadi menjadi acuan dalam mencari kriteria suami idaman dengan tentu saja juga dengan mengambil dan meniru segala hal positif yang dilakukan Fahri.

Tidak hanya Fahri, semua tokoh yang diceritakan dalam novel ini mengajarkan begitu banyak hal positif kepada pembaca. Sebut saja ketabahan seorang Sabina, kecerdasan seorang Hulya, kegigihan dan semangat Keira, kasih sayang Nenek Catarina, kesetiaan dan keistiqamahan dalam berhijrah seorang Hulusi, dan lain sebagainya.

So,

Ending yang twist dalam novel ini sempat membuat saya beneran shock. Baru kali ini saya membaca karya Kang Abik dengan ending semenarik ini. Saya nggak akan spoiler tentang apa twist dalam novel ini, namun demikian Insya Allah akan memuaskan bagi para pembacanya.

Overall, masih sangat setuju jika Novel ini disebut sebagai novel pembangun jiwa, menebalkan kembali semangat untuk beribadah dan menjadi orang yang lebih baik, sebaik Fahri.

(125)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)