Review

Review Film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

December 18, 2017

Ayat-Ayat Cinta 2 tidak boleh dilewatkan bagi Anda pecinta Fahri dan Aisha. Baik Anda yang mengenalnya lewat film pertama maupun Anda yang mencintainya melalui novel. Kendati bukan merupakan karya yang sempurna, Film Ayat-Ayat Cinta 2 adalah tontonan yang wajib untuk Anda saksikan di bioskop kesayangan.

 

Ini adalah film yang paling saya tunggu-tunggu, setidaknya setelah novel Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC2) terbit dua tahun yang lalu. Saya memang baru menuntaskan membaca novel ini beberapa minggu yang lalu, dan salah satu faktor pemicunya adalah kabar akan segera difilmkannya novel ini. Tentu saja semua bab dalam novel ini masih sangat segar dalam ingatan saya. Menurut saya novel AAC2 ini memiliki cerita yang luar biasa. Ini merupakan karya masterpiece Kang Abik.

Berselang 9 tahun lebih dari film pertamanya, AAC2 ini menurut saya memikul beban yang sangat berat. Pada film pertama Hanung Bramantyo telah “luar biasa sukses” menghidupkan sosok Fahri dan Aisha dengan begitu sempurna. Sehingga keduanya menjadi idola sekaligus sosok impian. Kisah dalam film pertama telah menancap begitu mendalam dalam hati tiap penontonnya. Romansa relijius dengan kisah yang sangat mengiris-iris kalbu benar-benar menjadi trade mark bagi brand besar Ayat-Ayat Cinta. Beban ini terpikul berat di pundak Guntur Soehardjanto yang saat ini dipercaya untuk duduk di kursi sutradara.

Terlalu lama rasanya bagi saya jika harus menunggu tanggal 21 Desember (2017) yang merupakan jadwal tayang resmi Film Ayat-Ayat Cinta 2 ini di bioskop. Begitu ada informasi tentang adanya event Special Screening film ini tanggal 16 Desember, saya pun langsung memburunya, walaupun harus jauh-jauh datang ke Cikarang.

Idealnya kita sebagai penonton harus bijak dalam menilai dan membedakan dua media yang sangat berbeda ini, yakni novel dan film, namun tetap saja saya sebagai pecinta versi novelnya sangat berharap bahwa versi filmnya akan sebaik novelnya.

Berusaha obyektif dalam menilai film ini, maafkan sebelumnya jika akan banyak bermunculan curhatan-curhatan saya di sepanjang tulisan ini.

CERITA

Jalan cerita film ini menurut saya mengalir dengan kurang smooth. Ada beberapa lompatan adegan yang kurang didukung dengan adegan-adegan sebelumnya. Hal ini tentu bisa dengan mudah dipahami bagi para penonton yang telah membaca novelnya, tapi akan sulit dimengerti bagi penonton biasa.

Sebagai contoh, Jason, salah satu tetangga Fahri yang awalnya sangat membenci Fahri tiba-tiba datang dan meminta pertolongan Fahri. Kebencian Jason sebelumnya ditunjukkan dalam beberapa adegan, seperti Jason dengan sengaja menendang bola ke arah mobil Fahri, dan juga adegan ketika ia memaki dan membentak Fahri setelah ia tertangkap tangan tengah mencuri di mini-mart milik Fahri. Dalam adegan itu diperlihatkan betapa bencinya Jason terhadap sosok Fahri. Memang dalam scene tersebut diperlihatkan bahwa Fahri menawarkan perdamaian serta persahabatan dengan Jason, namun setelah itu tidak ada adegan-adegan lain yang membantu memperlihatkan keakraban Fahri dan Jason. Jadi adegan kedatangan Jason ke rumah Fahri untuk meminta pertolongan Fahri bahkan sambil menangis merupakan hal yang kurang natural dan terasa mengagetkan.

Hal serupa juga terjadi pada sosok Sabina yang tiba-tiba menjadi pembantu rumah tangga di rumah Fahri. Sebelumnya memang diperlihatkan adegan ketika Fahri membela Sabina yang dianggap peminta-minta di masjid serta diperlihatkan pula adegan ketika Fahri melihat Sabina yang tengah dikejar-kejar oleh petugas keamanan. Tidak terlalu dijelaskan apa pertimbangan Fahri hingga memutuskan hal tersebut, atau bagaimana seorang Sabina dengan begitu mudah menerima tawaran Fahri tersebut. Seperti kita ketahui Fahri adalah sosok yang sangat menjaga hubungan antara laki-laki dan wanita, mengingat status Fahri sebagai seorang  duda serta sosok Sabina yang usianya relatif masih muda walaupun berwajah yang buruk.

Skenario garapan Alim Sudio dan Ifan Ismail dalam film ini menurut saya kurang bisa membuat penonton nyaman dan tenggelam dalam jalinan alur cerita yang logis dan mudah dicerna.

KEALIMAN FAHRI MEROSOT?

pretales.com

Fahri yang kita kenal sebagai sosok yang begitu menjaga ibadahnya, sosok yang sibuk belajar dan mengajarkan Alquran di tengah semua kesibukannya, sosok yang menundukkan pandangan dan begitu menjaga pergaulan dengan wanita, semua ini seolah sirna di film ini. Tidak diperlihatkan bagaimana Fahri merupakan sosok yang sangat menjaga ibadahnya, yang tenggelam dalam sujud-sujud malamnya, yang senantiasa berdoa dengan penuh kekhusyukan. Saya juga melihat di sini Fahri jauh lebih permisif dalam hal pergaulan dengan wanita. Adegan ketika Fahri membiarkan Hulya memperbaiki dasinya serta adegan ia duduk berdua dengan Hulya ketika hendak melamarnya itu sama sekali Nggak Fahri Banget!

Satu keajaiban lagi adalah ketika Fahri memutuskan untuk melamar Hulya yang saat itu belum menutup auratnya, ini sama sekali di luar logika saya. Sosok Fahri yang untuk menatap wanita bukan mahramnya saja tidak mau, tiba-tiba melamar seorang wanita yang belum berhijab serta terkesan “agresif” terhadap laki-laki adalah sebuah keanehan buat saya. Penggambaran karakter Hulya dalam film ini sama sekali bukan merupakan tipe wanita idaman Fahri. Jauh berbeda dengan sosok Aisha yang tergambar di film pertama.

DEBAT KOK GITU?

indowarta.com

Salah satu momen yang paling saya tunggu dalam film ini adalah sesi debat di mana Fahri sebagai salah seorang pembicaranya. Novel AAC2 mengisahkan dalam debat ini Fahri tampil sebagai sosok intelektual yang benar-benar teruji wawasan dan kedalaman ilmunya. Tentunya karena Fahri diceritakan telah menjadi seorang Profesor di bidang Filologi. Debat yang bertempat di Universtas Oxford ini merupakan debat berskala internasional dengan pembicara yang terbukti mumpuni di bidangnya masing-masing. Ini adalah salah satu ajang debat yang paling berkelas di seluruh dunia. Inilah frame yang tertanam dalam benak saya ketika membaca versi novelnya, karenanya saya sangat menantikan visualisasinya dalam versi film.

Sayangnya Film AAC2 ini menurut saya telah gagal total dalam menampilkan adegan ini. Ajang debat yang tertampil dalam film ini sama sekali tidak menampilkan sosok Fahri yang seorang intelektual berkelas. Alih-alih sebagai pembicara yang kompeten, Fahri malah hanya tampil sebagai seorang yang baik hati karena dibela oleh seorang nenek yang memang sangat berhutang budi kepada Fahri. Tidak ada debat yang ditampilkan, Fahri hanya menyampaikan pidato singkat yang sifatnya sangat general. Lawan bicaranya pun tidak ditampilkan secara jelas.

NIKAHI AKU FAHRI…

netmedia.co.id

Saat-saat ketika Keira akhirnya mengetahui siapa dewa penolongnya selama ini yang dengan tulus ikhlas mengantarkan dia dari hanya seorang anak yang brokenhome menjadi seorang pemain biola kelas dunia tidak ditampilkan dengan ciamik dalam film ini. Sayang sekali. Padahal ini salah satu momen yang paling mengharukan yang bisa diolah oleh sutradara.

Banyak pihak yang seharusnya terlibat dalam momen ini. Ada Hulya yang tengah dibakar api cemburu terhadap Keira, ada Ibunda Keira dan Jason (adik Keira) yang sudah memendam rahasia ini sejak awal kepada Keira, serta ada Madam Varenka, sang pelatih biola, yang juga sudah tidak tahan lagi ingin mengungkapkan identitas Fahri kepada Keira.

Momen dramatis ini dilewatkan Guntur dan menggantinya hanya dengan adegan tangisan Keira sambil berujar “Nikahi aku Fahri…”

Sungguh sayang.

TWIST TANPA GREGET

id.bookmyshow.com

Ada satu tokoh kunci dalam film ini yang sejak awal merahasiakan jati dirinya. Tokoh ini adalah “nyawa” dalam film ini. Semua kisah yang ada dalam film ini seharusnya berpusat pada kemisteriusan sosok ini. Karenanya titik klimaks film ini ada pada saat akhirnya sosok ini terbuka rahasianya. Momen inilah yang seharusnya menjadi “Golden moment” dari film ini. Momen inilah juga yang saya pribadi mengharapkan menjadi momen yang setara dengan momen ketika Aisha membuka cadarnya di film pertama. Ini adalah adegan yang tidak pernah akan dilupakan di sepanjang sejarah perfilman Indonesia.

Sayangnya momen itu tidak saya dapatkan di AAC2.

BAGAIMANA BISA?

Bagaimana bisa kita tidak mengenali seseorang yang begitu dekat dengan hidup kita?

Jika wajahnya memang tidak lagi bisa kita kenali, bukankah ia masih memiliki sorot mata yang sama? Bukankah ia juga masih memiliki suara yang sama? Kecuali jika memang pita suaranya rusak dan tidak lagi memiliki suara yang sama. Bukankah pula postur tubuh dan gerak-geriknya akan tetap sama? Kecuali jika cara berjalannya menjadi berbeda akibat kakinya yang pincang atau cacat fisik lainnya.

Semua pertanyaan ini sulit untuk dijelaskan dalam film ini.

PEMAIN BERKELAS

Film ini didukung oleh jajaran pemain yang tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam bermain film. Sosok Fahri masih diperankan oleh Fedi Nuril yang hingga saat ini memang merupakan benang merah terkuat antara film pertama dan kedua ini. Kemampuan Fedi dalam memerankan Fahri sudah tidak terbantahkan lagi. Bahkan sosok Fedi secara pribadi pun masih dikaitkan dengan sosok Fahri, hal ini membuktikan betapa suksesnya Fedi dalam memerankan Fahri.

Sosok Sabina dapat diperankan dengan baik oleh Dewi Sandra. Memang harus diakui mata Dewi Sandra tidak sama memesona dengan mata Rianti di AAC pertama, keduanya sama-sama mengenakan cadar. Wajah Sabina yang memang buruk karena entah kecelakaan atau sesuatu kejadian tertentu yang ia rahasiakan menjadikan Dewi Sandra tidak bisa menunjukkan kecantikannya di film ini. Sosok Sabina terlalu kelam untuk bisa bersinar.

Hulya yang cerdas dan ceria mampu dihadirkan dengan natural oleh Tatjana Saphira. Tatjana yang tampil cemerlang dalam Sweet 20 ini membuktikan kembali kepiawaian aktingnya dalam film ini. Hulya tampil dengan memesona.

Chelsea Islan tampil paling menonjol dalam film ini. Sosok Keira yang ia perankan sangatlah emosional dan temperamental. Keira yang terobesi menjadi pemain biola kelas dunia begitu mendendam kepada semua muslim akibat tragedi bom yang merenggut ayahnya, sekaligus merenggut semua cita-cita dan masa depannya. Chelsea mampu menghadirkan letupan-letupan emosi dan kebencian itu dengan sangat baik.

Hadir pula jajaran pemain berkelas lainnya seperti Dewi Irawan yang berperan sebagai Nenek Catarina, Arie K. Untung sebagai Misbah sahabat Fahri, dan Pandji Pragiwaksono sebagai pelayan pribadi dan sopir Fahri.

Sayangnya semua pemain berkelas ini belum mampu memberikan nyawa dalam film ini. Guntur di bangku sutradara dan Alim Sudio-Ifan Ismail di skenario tidak mampu menjadikan AAC2 sebagai film yang juga berkelas. Chemistry antar pemain serta kesinambungan cerita tidak tertampil baik dalam film ini.

SOUNDTRACK MENGGIGIT

jawapos.com

Jauh-jauh hari sebelum film ini tayang, pihak MD Pictures melalui MD Music memperkenalkan soundtrack film ini yang melibatkan 4 diva terbaik di Indonesia. Siapa yang bisa membantah bahwa Rossa, Krisdayanti (KD), Raisa dan Isyana merupakan penyanyi-penyanyi perempuan terbaik saat ini?

Rossa lagi-lagi membuat merinding dengan “Bulan Dikekang Malam”. Lagu yang masih digarap oleh Melly ini mampu membawa suasana magis dari Film AAC pertama untuk hadir kembali di film kedua ini. Apalagi lirik yang ditampilkan benar-benar dalam dan sangat mewakili salah satu karakter dalam film ini.

Alunan suara KD dalam “Ayat-Ayat Cinta 2″ yang juga dibesut oleh Melly mampu menaikkan beberapa derajat tiap adegan yang menyertainya. Lirik yang tertuang dalam lagu ini sangat mewakili suara hati Fahri.

Isyana hadir menyuarakan isi hati Hulya, seorang wanita yang secara lapang hati dan ikhlas mencintai kendati ia menyadari bahwa ia bukanlah orang yang pertama mengisi hati orang yang dicintainya itu. Isyana menjadikan lagu “Masih Berharap” ini menjadi lagu yang sangat “baper”. Kendati terkesan paling easy listening diantara soundtrack yang lain dalam film ini, lagu gubahan Yovie ini sangat mengena di hati.

“Teduhnya Wanita” yang dibawakan dan dibuat sendiri oleh Raisa tidak hadir di dalam film ini. Mungkin karena lagu ini hadir paling belakangan di antara yang lain. Lagu ini hanya hadir bersamaan dengan credit tittle ketika film ini usai. Namun demikian lagu ini seolah tampil sebagai kesimpulan dari keseluruhan isi film yang menyanjung peran wanita dalam kehidupan.

Beberapa adegan dalam film ini sangat ditolong dengan hadirnya soundtrack yang begitu kuat sehingga mampu menghadirkan adegan yang menyentuh bagi penonton. Untungnya film ini memiliki soundtrack yang begitu bernyawa sekaligus memukau dan berkelas.

Selain soundtrack yang sempurna, Tya Subiakto pun membingkai film ini dengan scoring yang sangat indah. Tidak berlebihan dan tidak pula minimalis, pas untuk setiap adegan yang ada. Salut untuk Tya Subiakto yang memang tidak bisa dibantah kepiawaiannya dalam membuat scoring sebuah film.

BERTABUR QUOTE

Film ini begitu banyak menghadirkan quote-quote yang indah yang bisa menjadi santapan hati dan pikiran kita sebagai penontonnya.

Misalnya nasihat Misbah kepada Fahri dengan kata-kata “Jangan menipu ALLAH”, jabaran dari kata-kata ini sangatlah dalam. Nasihat ini menyentil keikhlasan kita dalam berbuat segala sesuatu. Jangan sampai semua amal yang kita lakukan hangus begitu saja jika “kurang tepat” dalam menempatkan niat, bukan karena mengharap Ridha ALLAH.

Atau pidato singkat Fahri dalam ajang debat yang menyatakan bahwa kita harus mencintai “cinta” serta harus memusuhi “permusuhan” itu sendiri, barulah kedamaian yang sejati akan kita peroleh.

Taburan quote ini bisa menjadi oleh-oleh cantik yang bisa kita bawa pulang setelah menonton Film AAC2.

KEMEGAHAN CINTA

Apa itu cinta dalam Islam? Film ini dengan sukses menggambarkannya. Cinta dalam islam tidak mengenal warna kulit, agama, dan juga status sosial. Islam merupakan kasih sayang bagi semesta, tidak hanya manusia, bahkan seluruh mahluk-Nya, baik hidup maupun tidak.

Fahri telah menunjukkan di dalam kesuksesannya di bidang pendidikan sekaligus di bidang ekonomi ia mampu tampil sebagai muslim yang hadir menebar cinta ke semua.

Nenek Catarina yang seorang Yahudi, Fahri jadikan ia sosok seperti ibunya sendiri yang diperhatikan dan dirawat dengan penuh kasih sayang.

Brenda seorang pemabuk kelas berat yang senantiasa ia tolong ketika ia sedang tidak sadarkan diri.

Jason dan Keira, anak-anak brokenhome yang justru islamophobia Fahri jadikan mereka sebagai anak asuh hingga masing-masing sukses dalam mencapai impiannya.

Sabina, seorang muslimah tunawisma peminta-minta yang merupakan pendatang ilegal di Edinbrugh. Fahri menjadikannya asisten rumah tangga dengan tujuan membantu dan memuliakannya, sekeligus menjaga nama baik seluruh muslim di Edinbrugh yang semula dianggap oleh media tidak memperhatikan nasib sesama muslim yang tunawisma dikota itu.

BTW, Yuk Nonton …!

Pelajaran cinta dalam film ini sedemikian paripurna. Semoga penonton dapat memetiknya satu atau dua buah untuk dibawa ulang dan diamalkan dalam keseharian, aamiin.

Ayat-Ayat Cinta 2 tidak boleh dilewatkan bagi Anda pecinta Fahri dan Aisha. Baik Anda yang mengenalnya lewat film pertama maupun Anda yang mencintainya melalui novel. Kendati bukan merupakan karya yang sempurna, Film Ayat-Ayat Cinta 2 adalah tontonan yang wajib untuk Anda saksikan di bioskop kesayangan.

Tapi ingat ya, mengingat ada beberapa adegan kekerasan di film ini, AAC2 sebenarnya hanya boleh disaksikan oleh Anda dengan usia 17 tahun ke atas. Kemarin saya nonton bersama istri dan anak-anak, beberapa kali sempat berusaha memalingan wajah anak-anak dari beberapa adegan kekerasan yang ditampilkan.

BTW Selamat menonton yaaaa  :-)

(21223)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  1. Sy jg ngrasa gt abs nonton ini. Knp fahri jd krg alim? knp fahri g ngnalin aisha?
    Tp sy blm bc novelnya jd ya sy bs mnikmati film ini
    Bravo film indonesia

      1. Ini review yang mewakili kegamangan ku antara film dan novel.

        Satu adegan yang kuharapkan hadir menguatkan cerita dan membawa hikmah

        Tentang “dosa sosial”
        Disaat fahri datang membawakan roti kerumah nenek catarina yg sakit kaki dan kelaparan.

        Saya juga sulit mengikuti alur cerita film yg melompat dan kurang connect.
        Kehadiran sabina di film juga gak berperan penting seperti sebagai pelengkap aja.
        Dengan adegan yang hanya diam, melayani.
        Padahal sabina dengan keterbatasannya mampu mewarnai lingkungannya. Interaksi dengan nenek catarina, betapa berartinya sabina bagi hulya, bagi brenda dan bagi fahri & hulusi.

        Kesedihan fahri ditinggal aisha kurang mendalam, toohh fahri enjoy aja ada hulya yany agresif dan fans wanita lainnya. Coba jika dengan banyaknya fans wanita fahri merasa terancam akan fitnah wanita dan zina mata/ hati. Kondisi ini membuat fahri semakin seddiiiiihhh tanpa aisha disisinya.

        Sejak awal syuting yang banyak dipertanyakan kenapa hulya tidak berkorban. Rasanya sangat tidak berbanding lurus dengan kesholehan fahri yang beristrikan aisha bercadar dengan proses taaruf rekomendasi syekh Usman guru talaqi fahri.
        Awalnya saya fikir mungkin muatannya sebagai dakwah, bahwa seorang wanita tak berjilbab pun bisa berubah bersama fahri. Tapi gak dapat muatan syiar dakwah hijab nya, bahkan sampai akhirnya hulya wafat.

        Aaaahh sayang….
        Tapi walau dengan keterbatasan
        tetap recomended buat ditonton, sebagai film alternatif pembangun jiwa .

        👍👍👍

        1. Saya setuju banget dengan Iim, adegan “dosa sosial” itu benar-benar menggetarkan di novel. Saya juga berharap ini ditampilkan di film. Sayangnya tidak. Kesalihan Fahri yang terasa “DROP” serta “jilbab tanggung” versi Hulya bikin geregetan dan sangat disayangkan. Terima kasih ya sudah mampir :)

  2. Gak suka ending film ini tapi saya akui kualitas akting tatjana dan chelsea islan sangat bagus. Mereka memerankan karakternya dengan apik.

    1. Iya Mbak Diah, ending yang indah dieksekusi dengan kurang memadai. Sayang sekali. Saya sepakat untuk Tatjana dan Chelsea memang keren bermain di sini.

    1. Sepakat Mbak Ajeng. Di balik sosok Hanung yang kontroversial, tetap dia adalah jagonya untuk membuat film dengan genre seperti ini. Salam kenal Mbak Ajeng, terima kasih sudah mampir di sini :)

  3. Sutradara bagus..narasi/alur cerita nya aja yg garing g berkelas..hanya fokus berfikir nunjukin toleransi..dan mengabaikan banyak hal

    1. Saya setuju mas untuk alur cerita yang kurang baik karena skenarionya yang memang demikian, namun isi cerita yang memuat banyak hal termasuk toleransi saya pikir sudah baik dan banyak memuat pesan moral yang positif. Sekali lagi sayang akhirnya film ini dieksekusi dengan kurang baik oleh sang sutradara.

  4. Masya Allah.. Saya setuju banget sama tulisan ini. Pas banget dengan apa yg saya pikirin setelah nonton film Ayat-ayat cinta 2. Hal yg paling mengusik saya adalah, kenapa peran Aisha tidak diperankan oleh Rianti lagi? Jadi merasa seperti dia bukan Aisha yg sebenarnya dan hanya memang Sabina. Kalau aja peran Aisha tetap dimainkan oleh Rianti mungkin akan lebih ngena feelnya. Kemudian saya setuju juga ttg kenapa Fahri jadi kurang alim ya.. Malah karakternya mirip dengan peran Fedi Nuril di film surga yg tak dirindukan. Dan terakhir, endingnya yang kurang make sense (menurut saya). Kenapa harus menjadi wajah Hulya? Saat nonton AAC2 ini saya tidak menangis sampai tersedu-sedu seperti saat film Ayat-ayat cinta yg sebelumnya. Karena.. Apa ya.. Seperti kurang ‘ngena’ di hati.

    1. Alhamdulillah Mbak Mecca jika tulisan ini mampu mewakili pikiran Mbak.

      Mengenai sosok Rianti saya juga masih bertanya-tanya kenapa nggak main di film ini. Sesi operasi plastik di film ini juga merupakan hal yang paling fatal di film ini, agak kurang ciamik mengeksekusinya. Jika memang sulit divisualisasikan kenapa nggak diubah sedikit misalnya wajah Sabina dioperasi plastik menjadi seperti semula, ya kan? Lebih masuk akal saya rasa.

      1. Assalamu’alaikum Wr Wb

        Salam kenal Mas Iman. Saya senang sekali dengan reviewnya. Dari sekian banyak review mengenai film ini, tulisan di atas jadi salah satu review yang terbaik. Review yang lengkap dari sisi cerita, pemain, bahkan sampai ke soundtracknya juga dibahas yang didukung dengan kritikan tanpa bermaksud mencela film AAC2 ini.. ^^

        Mengenai mengapa pemeran Aisha diganti, dan Rianti tdk terlibat di film ini, saya bisa bantu jawab krn saat ini Rianti udah berpindah keyakinan sehingga jika pemeran Aisha yang sangat shalehah di novel diperankan oleh aktris yg non muslim sepertinya jadi kurang pas dan kurang mendukung karakter Aisha itu sendiri.

        Selain itu, yang perlu diperhatikan lagi, konflik bathin Fahri di film ini tidak disampaikan dengan baik. Alangkah baiknya di ending film atau mungkin di beberapa adegan Fahri dengan Sabina, ada konflik bathin Fahri yang ditampilkan sehingga dapat tergambarkan untuk para penonton bahwa Fahri juga masih mengenali sosok istrinya melalui masakan-masakan atau gerak gerik Sabina yang mirip dengan Aisha tersebut. Karena sebenarnya jika kita perhatikan lirik lagu yang mewakili karakter Fahri ini, sudah cukup menggambarkan kegalauan hati Fahri yang ditinggal Aisha, sayang saja jika eksekusi melalui filmnya kurang tergambarkan sehingga banyak menimbulkan kebingungan bagi para penontonnya.

        Saya juga sudah membaca novel AAC2 ini, dan sebenarnya banyak sekali nilai-nilai Islam dan adegan-adegan yang menarik untuk divisualisasikan lewat filmnya. Mungkin jika penulis skenarionya mau tetap “setia” pada novelnya, film AAC2 dapat dibagi jadi 2 sekuel lagi dan karakter2 lainnya dapat ditampilkan seluruhnya sehingga pesannya dapat tersampaikan dengan tepat dan mungkin karakter Hulya juga bisa lebih menyesuaikan dengan novel sehingga Fahri tidak terkesan mengalami penurunan kualitas dalam menentukan pilihan hatinya.. :D

        1. Salam kenal Sarah, terima kasih ya mau mampir di sini. Versi film memang tidak bisa diharapkan akan sama persis dengan versi novelnya, tapi setidaknya harus tetap setia dengan ruh atau benang merah dari novelnya. Menurut saya versi filmnya ini banyak menyimpang dari novelnya secara substansial, sayang sekali.

  5. Untuk novel yg d angkat jd movie memang qt g boleh membandingkannya karena kebanyakan akan beda jauh. Jadi nikmati ceritanya versi novel seutuhnya. Dan nikmati ceritanya versi movie seutuhnya. 😊

    1. Sepakat Mbak Mutia, dan ini juga saya state di review filmnya kan? Tapi… sebagai sebuah film yang utuh ternyata AAC2 banyak menimbulkan lubang-lubang pertanyaan yang sulit dijelaskan. Misalnya bagaimana bisa Fahri tidak mengenali Aisha? Kenapa Fahri bisa sebegitu kaya raya, dia usaha apa? sebab di film hanya digambarkan profesinya sebagai dosen dan memiliki sebuah mini-market,dan banyak lagi pertanyaan lainnya. CMIIW

      1. Terima kasih mas utk reviewnya, ini yang paling mewakili menurut saya. Di bagian ttg kekayaan Fahri sy malah langsung kepikiran, uang yang dipakai Fahri adalah hartanya Aisha, bener ga ya di AAC 1 Aisha itu sendiri kan memang kaya,bahkan setelah mereka nikah, mereka berdua tinggal di rumah megahnya Aisha.

        Pun yang kurang dihighlight dan sbenernya udh dikasih hint sama nasehatnya Misbah ke Fahri “Jangn menipu Allah”, saya malah langsung ngeh semua yg Fahri lakukan itu memang sebenernya buat Aisha, karena itu Fahri minta doanya Sabina untuk istrinya. Petunjuk2 kecil untuk pelengkap keseluruhan plot sebenernya ada tapi hanya kurang ditonjolkan aja.

        1. Memang benar Mbak Irika, sebagian besar harta kekayaan Fahri memang berasal dari Aisha yang memang seorang kaya raya. Tapi Fahri juga sudah mapan secara ekonomi karena ia seorang dosen pengajar di universitas cukup terkemuka.

  6. Dari banyak review AAC 2 (mayoritas kecewa) saya suka review mas Iman karena nggak ngejudge dan santun…tapi tetap obyektif mengatakan bahwa film ini nggak sesuai ekspektasi..tabik.

    1. Mbak Lia, di bagian mana ya saya menyatakan bahwa film ini tidak menggambarkan bagaimana wajah Sabina rusak? Saya cuma menyatakan “bagaimana bisa” seorang suami tidak bisa mengenali istrinya sendiri? Silakan dibaca lagi review saya Mbak. Terima kasih :)

  7. Ah saya adalah penggemar ayat2 cinta pertama berkali2 nonton, berkali2 nangis sampe tersedu2. Berharap ayat2 cinta yg kedua bisa mengobati rindu saya akan fahri dan aisha tp malah zonkk sekali. Haduh terimakasih mas tulisan ini benar2 mewakili apa yg saya dan penggemar AAC rasakan

    1. Sebenarnya tidak harus sama dengan novelnya Mas Dedew, yang disayangkan dari film ini adalah sebagai film seutuhnya, AAC2 ini masih banyak lubang pertanyaan yang di luar logika.

  8. Review nya sangat bagus…
    Numpang share sedikit ya pak.
    Wajah sabina, berikut kutipan yang penulis tuliskan “Wajah Sabina yang memang buruk karena entah kecelakaan atau sesuatu kejadian tertentu yang ia rahasiakan menjadikan Dewi Sandra tidak bisa menunjukkan kecantikannya di film ini”
    Di film sangat jelas bagaimana wajah sabina menjadi buruk. Itu adalah adegan yang membuat saya sebagai perempuan menangis. Karena menurut saya itu adalah salah satu penggambaran bagaimana seorang perempuan muslimah khususnya di palestina mempertahankan kehormatan.

    Fahri tidak mengenali Aisha.
    Saya juga bertanya, bagaimana seorang suami tidak mengenali istrinya sendiri. Dalam hati saya marah melihat seorang suami seperti itu. Tapi akhirnya saya terkagum dengan Aisha yang hanya inginkan kebahagian untuk suaminya walau ia tersakiti. Setidaknya Aisha memberikan sedikit tentang bagaimana seorang wanita berbakti pada suaminya dengan cara yang dia pilih.

    Fahri yang keimanannya merosot.
    Ya, fahri tak sealim di aac 1. Tak lagi menundukkan pandangan. Bukan hanya dengan Hulya, tapi dengan mahasiswi penggemarnya
    Apakah karena ia tinggal lingkungan mayoritas non muslim, sangat berbeda dengan linkungannya sebelumnya? Apakah karena dia bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat yang lebih beragam dan bahkan tidak mengenal islam karena itu dia berusaha menyesuaikan ?
    Entahlah tapi itu pertanyaan” yang muncul di benak saya.

    Seorang Fahri melamar Hulya yang tidak berhijab ? Itu menyebalkan tapi itu adalah realitas. Saya mengenal seorang yang alim tapi menikahi wanita tidak berhijab. Atau orang” berilmu agama yang kita lihat menikahi perempuan yang berhijab namun hijabnya tidak menutup dada dan tetap dengan pakaian ketatnya.
    Walaupun sedih karena fahri digambarkan seperti itu. Menikahi wanita yang saya katakan belum selevel dengan Aisha.

    Jason menangis meminta pertolongan gahri. Ya, tak ada adegan penghubung disitu. Tidak ada juga pergolakkan batin jason ttg kebaikan fahri.

    Ending face off nya nggak banget. Its the worst part. Fahri yang mengunggui persalinan Hulya dan Fahri yang adzan di telinga anak nya musa adalah puncaknya. Saya menangis sesenggukan, sangat emosional bagi saya dan suami. Saat kumandang adzan itu beriringan dengan gendrang malaikat maut.

    End of all. Filmnya tetap berkualitas, padat dengan makna.
    Mohon maaf dan terima kasih.

    1. Terima kasih Mbak Arina atas tambahan dan masukannya. Memang saya tidak mengungkapkan sebab wajah Sabina rusak agar review ini tidak memberikan spoiler kepada pembaca yang belum menonton film ini.

  9. Saya setuju dengan isi artikel ini. Btw spoiler bgt bagi yg belom nonton ya hehe. Saya belum membaca novel aac2nya dan semoga saya bisa membacanya segera. Emang banyak banget si kalo diliat dari adegan di film ada yg kurang jelas, atau gantung gitu,mungkin di novel lebih diutarain ya. Tapi menurut saya kenapa pemeran aisyah diganti, mungkin biar kita gk bisa nebak siapa dia(?). Mengingat peran sabina disitu adalah karakter kunci. Jadi biar greget bagi nonton filmnya dan belom baca novelnya hehehe.

    1. Insya Allah jika Mas Wahyu baca kembali review saya ini tidak mengandung spoiler kok, saya betul-betil menjaga agar tidak memberikan bocoran yang akan mengganggu para pembaca yang belum menonton filmnya. Tapi memang ada sedikit “petunjuk” halus, namun jika belum menonton filmnya Insya Allah belum memahami petunjuk tersebut.

    1. Dalam novel dikisahkan bahwa wajah Aisha itu benar-benar telah rusak, bahkan digambarkan kita akan jijik jika melihat wajahnya. Selain itu juga Aisha mengalami kerusakan pita suara yang parah, sehingga suaranya nyatis tidak dikenali lagi. Penggambaran dalam novel lebih masuk akal menurut saya.

      1. ohh jadi gitu kalo cerita di novelnya. kalo begitu masih masuk akal yaa,kalo kaya di film itu geregetan dan mengada ada smpe ga kenalin istrinya sendiri. tp pas dibagian endingnya muka aisha diganti itu sama ga kaya di novel?

  10. Review nya subhanallah keren mass…sangat sesuai dengan apa yg saya pikirkan stelah menonton aac 2… ada yang hilang rasanya dari aac 2… mungkin apakah hanya saya yg akan berpendapat bahwa aac 2 tak se”hidup” dan se menggigit acc 1.. bayangan saya aac 2 akan mengharu biru donker navy dan was2 saat tak bawa tisu,, tapii ya itu lah,,, dari kemarin ada yang mengganjal rasanya untuk coment.. tapi karena tidak tau harus mulai dari mana dan bagaimana yaaa akhirnya saya hanya ngedumbel dalam hati,,, sampai ketemu tulisan mas,, akhirnya terwakilkan dan terlepaskan,,,kesimppulan saya
    “Ada yang Lost dari Acc 2”
    terimakasih

    1. Terima kasih Mimi. Saya juga awalnya bingung mau menulis dari mana. Tapi bagaimana pun kita harus jujur ketika menulis. Salam kenal dan thanks ya sudah mampir di sini :)

  11. makasih review nya mas, uraian nya dapet banget. Ini saya baca sesaat abis nonton aac 2. tadi nya saya kira ada yang kurang dari film ini karena sekuelnya kelamaan, jadi kayak ada yang lost gara gara ada yang lupa. Btw, saya termasuk yang pernah tau ayat2 cinta sebelum nya. Point yang jadi perhatian, yang kesatu soal debat kayaknya kurang masuk akal, kenapa debatnya cuma seperti itu aja rasanya sangat kurang buat ukuran debat ilmiah skala besar yang sampai di pasang iklan. Yang kedua, fahri yang sekarang ini lebih deket ke mas pras nya SYTD (maap). Yang ketiga, ending yang menurut saya enggak banget, kayak kurang masuk akal, semua proses operasi face off nya dilihat fahri, ending yang kurang dramatis. Selebihnya saya setuju sama mas iman, terutama buat para pecinta fachri dan aisha juga penggemar aac harus nya jangan lewatkan gitu aja aac 2 di bioskop kesayangan. Hatur nuhun.

    1. Makasih ya Ferry. Karakter Fahri mendekati karakter Pras? Jujur saya nggak terlalu memperhatikan karakter Pras hehehe. Yang pasti menurut saya kesalihan Fahri merosot tajam di AAC2 ini. Sayang ya endingnya digarap kurang cantik.

      Sepakat, yuk ajak yang belum nonton film ini agar menyaksikannya di bioskop, terutama bagi pecinta sosok fahri dan Aisha. BTW salam kenal ya bro :)

  12. Gak tau kenapa difilm ini saya selalu menunggu momen nya Keira. Pdhal pemain inti lainnya banyak tp entah knp saya tdk tertarik. Pdhal scene nya Keira sangat sedikit & berdurasi sangat singkat. Btw saya belum baca novelnya. Apakah cerita & karaktee Keira yg difilm itu sama dengan yg di novel? Btw review nya bagus mas, salam kenal 😊

    1. Chelsea Islan emang keren di film ini, all out. Untuk karakter Keira versi novelnya memang sama kok dengan versi filmnya. Salam kenal juga Mario :)

  13. Rada aneh memang saat Fahri tidak mengenal Aisha hanya karena mukanya rusak separo. Toh dari awal kenal memang Aisha bercadar, seharusnya sangat bisa mengenali mata cantik istrinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)