Review

Review Film Gerbang Neraka (2017)

By on September 20, 2017

Lama tidak menyaksikan film bergenre horor, saya cukup antusias ketika mendapat undangan pemutaran sebuah Film Indonesia bergenre ini. Walaupun dahi saya sempat mengernyit melihat jajaran pemain yang salah satunya adalah (lagi) Reza Rahadian, saya tetap antusias untuk menonton film ini.

Judul film ini adalah “Gerbang Neraka”, cukup seram memang. Film ini disutradarai oleh Rizal Mantovani yang pernah sukses melalui film Jelangkung (2001) dengan raihan penonton hingga 5.7 juta orang. Sedangkan untuk jajaran pemain pun tidak main-main, deretan pemain kelas atas terlibat di dalamnya, seperti Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Rey Sahetapy dan juga Lukman Sardi.

Sang produser, Robert Ronny, sepertinya terlihat sangat serius menggarap film ini. Konon kabarnya film ini digarap sejahk 2015. Wow! Ia menjanjikan film ini bukanlah bukan film horor biasa, karena film ini juga mengandung unsur petualangan, science fiction, drama, sekaligus sejarah. Karena memang film ini mengambil latar belakang Situs Gunung Padang yang adalah salah satu situs sejarah yang kita miliki.

(305)

Continue Reading

Sharing

Bersosial Media Dengan Bahagia

By on April 18, 2017

Bersosial media dengan Bahagia? memang bisa?

Beberapa penelitian memang memberikan kesimpulan yang sama sekali berbeda. Misalnya hasil penelitian dari Happiness Research Institute tahun 2015 lalu yang salah satu kesimpulannya adalah “Orang-orang yang meninggalkan sosial media akan 18% lebih bahagia dibanding orang-orang yang masih aktif bersosial media”. Penelitian ini melibatkan 1095 orang responden dan khusus difokuskan pada sosial media Facebook. Untuk data lengkap hasil penelitian ini bisa klik di sini.

Atau tulisan yang dirilis Januari 2017 ini yang kurang lebih memberikan kesimpulan yang sama. Fokus tulisan ini pada generasi milenial dengan jenis sosial media Facebook, Instagram, dan Twitter.

happinessresearchinstitute.com

Kedua tulisan di atas sama-sama sepakat bahwa bersosial media cenderung membuat orang menjadi tertekan, stress, merasa kurang bahagia, serta merasa iri dengan kebahagiaan orang lain. Wah kalau sudah begini seolah-olah bersosial media cuma bikin kepala pening saja, ya kan? Padahal seperti kita ketahui sosial media sebenarnya punya banyak manfaat juga lho, seperti membantu menghubungkan kita dengan orang-orang yang dicintai di seluruh dunia dalam hitungan detik, sebagai sumber informasi, berkumpul dalam kelompok atau komunitas yang kita sukai, atau sebagai sumber berita paling up date.

Nah, kalau boleh saya mau sedikit memberikan tips sederhana agar kita selalu merasa bahagia kendati kita aktif bersosial media.

(60)

Continue Reading

Review

Review Film Galih dan Ratna (2017)

By on March 3, 2017

Oh Galih… Oh Ratna… cintamu abadi
Wahai Galih… Duhai Ratna… Tiada petaka merenggut kasihmu

 

Entah kenapa lagu gubahan Mas Guruh Soekarnoputra ini begitu melekat di ingatan saya. Soundtrack film Gita Cinta dari SMA yang “pecah banget” di tahun 1979 ini memang telah sedemikian melegenda hingga hari ini. Lagu ini bahkan telah beberapa kali dibuat ulang. Duh jadi ketahuan deh umur saya hehehe.

Ketika mendapat kabar dari kicauan @cipukun sekitar Desember lalu bahwa film ini akan dibuat ulang, saya cukup excited. Saya sangat penasaran untuk mengetahui bagaimana kisah Galih dan Ratna akan tampil di era milenial ini.

Film yang berjudul Galih dan Ratna ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Seorang sutradara muda yang pernah menyabet beberapa penghargaan internasional. Sebut saja Best Southeast Asian Short Film untuk Film The Fox Exploits the Tiger’s Might di Singapore International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film festival di tahun 2015. Beberapa film garapannya yang pernah tayang di bioskop tanah air di antaranya Madam X (2010) dan Selamat Pagi Malam (2014).

Apa yang sebenarnya membuat Film Gita Cinta dari SMA (1979) begitu memiliki greget untuk dinikmati dan cocok sebagai tontonan remaja Indonesia? Menurut saya sebagai penikmat film yang awam, nggak lain dan nggak bukan adalah “bagaimana mereka menyatakan dan menunjukkan rasa suka satu sama lain dengan cara malu-malu namun jujur dan tulus”. Inilah yang seolah hilang di zaman sekarang. Semua dilakukan dan dinyatakan secara frontal dan seolah tanpa seni. Inilah juga yang mungkin oleh orang tua kita disebut sebagai budaya dan sopan santun ketimuran khas Indonesia.

Dan ini yang bikin saya penasaran banget untuk menyaksikan remake Galih dan Ratna ini.

(2028)

Continue Reading