Review

Review Film Galih dan Ratna (2017)

By on March 3, 2017

Oh Galih… Oh Ratna… cintamu abadi
Wahai Galih… Duhai Ratna… Tiada petaka merenggut kasihmu

 

Entah kenapa lagu gubahan Mas Guruh Soekarnoputra ini begitu melekat di ingatan saya. Soundtrack film Gita Cinta dari SMA yang “pecah banget” di tahun 1979 ini memang telah sedemikian melegenda hingga hari ini. Lagu ini bahkan telah beberapa kali dibuat ulang. Duh jadi ketahuan deh umur saya hehehe.

Ketika mendapat kabar dari kicauan @cipukun sekitar Desember lalu bahwa film ini akan dibuat ulang, saya cukup excited. Saya sangat penasaran untuk mengetahui bagaimana kisah Galih dan Ratna akan tampil di era milenial ini.

Film yang berjudul Galih dan Ratna ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Seorang sutradara muda yang pernah menyabet beberapa penghargaan internasional. Sebut saja Best Southeast Asian Short Film untuk Film The Fox Exploits the Tiger’s Might di Singapore International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film festival di tahun 2015. Beberapa film garapannya yang pernah tayang di bioskop tanah air di antaranya Madam X (2010) dan Selamat Pagi Malam (2014).

Apa yang sebenarnya membuat Film Gita Cinta dari SMA (1979) begitu memiliki greget untuk dinikmati dan cocok sebagai tontonan remaja Indonesia? Menurut saya sebagai penikmat film yang awam, nggak lain dan nggak bukan adalah “bagaimana mereka menyatakan dan menunjukkan rasa suka satu sama lain dengan cara malu-malu namun jujur dan tulus”. Inilah yang seolah hilang di zaman sekarang. Semua dilakukan dan dinyatakan secara frontal dan seolah tanpa seni. Inilah juga yang mungkin oleh orang tua kita disebut sebagai budaya dan sopan santun ketimuran khas Indonesia.

Dan ini yang bikin saya penasaran banget untuk menyaksikan remake Galih dan Ratna ini.

(1365)

Continue Reading

Review

Celebgramme Jadikan Kamu Seleb di Instagram

By on March 2, 2016

Saya membuat account Instagram di awal tahun 2014. Saat itu saya berpikir bahwa Instagram itu adalah sosial media untuk berbagi foto-foto yang kita anggap paling keren. Karenanya kebanyakan yang saya follow adalah account para fotografer atau mereka yang hobi foto obyek-obyek menarik. Saya banyak belajar bagaimana cara mereka menentukan sudut pengambilan gambar serta pencahayaan sehingga hasil foto mereka terlihat begitu berbeda tapi tetap menarik. Account lainnya yang saya ikuti tentu saja adalah milik teman-teman, keluarga dan sahabat. Makanya selama 2 tahun berinstagram saya hanya melakukan follow ke 61 account saja.

Screenshot_2016-03-02-10-52-45
Postingan pertama saya di Instagram 25 Januari 2014

 

INSTAGRAM BERUBAH

Hingga akhir-akhir ini Instagram berubah total, ia tidak hanya menjadi ajang berbagi hasil foto dan video keren, melainkan juga menjadi ajang eksistensi diri. Tidak heran kebanyakan isi Instagram saat ini adalah berupa foto selfie atau wefie. “Penyakit” ini tidak saja menghinggapi para artis dan tokoh terkenal, tetapi juga hampir semua pengguna instagram melakukannya. Untuk yang satu ini saya seringkali melakukan unfollow kepada account-account yang masuk kategori “berlebihan” dalam melakukan sharing foto-foto semacam ini. Please deh!

Instagram juga berubah jadi pasar kaget. Ya, bahkan Kaskus dan situs online “sepertinya” kalah pamor dibandingkan Instagram dalam hal memberikan efek peningkatan penjualan. Barang yang dijual pun super lengkap, dari produk kebutuhan sehari-hari, makanan, barang elektronik, gadget, hingga kebutuhan hewan peliharaan juga ada lho! Penjual tinggal menentukan hastag yang tepat maka produk yang dijual akan segera menemukan pembeli yang tepat, demikian juga sebaliknya.

(1766)

Continue Reading

Review

Tausiyah Cinta (2015) Ketika Cinta Menasihati Dirinya

By on December 7, 2015

Gawean” Aktivis Dakwah

Dunia seni kini tidak lagi menjadi lahan yang kering dan gersang dari kegiatan dakwah. Beberapa aktivis muda Islam dengan idealisme yang mereka pegang teguh coba membuktikan bahwa dakwah pun bisa dikemas indah melalui sebuah karya film. Tidak harus melulu takluk dengan kekuatan kapital besar yang terkadang sekalipun mengusung film bertema dakwah (islami) namun pada praktik proses pembuatannya hingga para pemilihan pemerannya jauh dari nilai-nilai Islami itu sendiri.

Bedasinema, sebagai sebuah rumah produksi yang baru hadir di dunia perfilman Indonesia, mencoba kukuh mengusung nilai-nilai Islami bahkan dari tahap pemilihan pemeran hingga pada proses syuting. Sebut saja casting yang mensyaratkan para pemeran memiliki hapalan quran, benar-benar mengenakan pakaian yang menutup aurat dalam keseharian serta beberapa parameter islami lainnya.

Begitu pula selama proses syuting. Menurut informasi yang kami dengar, tidak ada satu adegan pun yang memungkinkan terjadinya sentuhan antara pemain laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya,  juga tidak ada satu pun adegan yang memperlihatkan pemain hanya berduaan dalam satu scene. Ketika adzan berkumandang pun proses syuting akan dihentikan untuk terlebih dahulu menunaikan shalat. Subhanallah.

(1802)

Continue Reading