Review

Pengejar Angin, Film Inspiratif Bernuansa Lokal

November 13, 2011

Film ini memang sengaja disajikan tepat dengan perhelatan akbar Sea Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan. Dan memang film ini disponsori resmi oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan. Nggak aneh nuansa sea games serta tampilan vulgar promosi program unggulan propinsi Sumsel pun tampil di film ini, untungnya Hanung, sang sutradara, mampu mengemasnya dengan ciamik hingga film ini seutuhnya tetap nyaman untuk dinikmati.

Mari Bercerita

Dapunta, seorang siswa SMU yang cerdas dan memiliki bakat olah raga (lari) namun memiliki keterbatasan ekonomi. Ayahnya yang seorang perampok, lebih dikenal sebagai bajing luncat, bahkan tidak mendukungnya untuk melanjutkan sekolah. Dapunta dengan banyak bakat di dalam dirinya dalam film ini akhirnya harus mengikuti kata hatinya untuk memilih dan menentukan masa depannya. Tawaran beasiswa ke Jepang? atau memilih beasiswa olahraga? atau jalur siswa khusus dari SMU? ini menjadi menarik dengan olahan tangan dingin Hanung.

Ada sosok camat yang arogan, ada sosok kepala sekolah yang bisa disuap, ada sang guru yang membela habis-habisan murid berbakatnya, ada sahabat, dan tentu saja ada lawan. Semua tersaji dalam jalinan cerita yang cukup baik.

Sederetan Aktor Kawakan

Nama-nama aktor kawakan tanah air tampil berderet-deret dalam film yang berjudul lengkap Dapunta Pengejar Angin ini. Sebut saja Lukman Sardi yang tampil apik sebagai seorang guru yang idealis, Mathias Muchus yang sangat memukau kali ini membawakan peran sebagai ayah Dapunta yang juga seorang pendekar sekaligus bajing luncat dan siluman harimau, Agus Kuncoro yang luwes sekali memegang peran sebagai pelatih lari.

Melihat duet Lukman Sardi dan Agus Kuncoro ini jadi ingat beberapa film lain yang juga menampilkan keduanya, misal Film Mestakung yang juga baru saja tampil meramaikan perbioskopan tanah air. Oh ya, ada juga Wanda Hamidah lho, dia sangat meyakinkan memerankan ibu Dapunta yang sakit-sakitan.

Pemain Baru yang Menjanjikan

Nggak hanya mengandalkan nama-nama aktor senior untuk menjadikan film ini sebagai film yang bermutu, tampilnya wajah-wajah baru juga ternyata justru menjadi daya pikat tersendiri. Qausar Harta Yudana sebagai pemeran Dapunta, sang tokoh utama tampil begitu natural dan meyakinkan. Kita bisa menikmati permainan aktingnya yang pas dan tidak berlebihan. Sosok antagonis (Yusuf) cukup baik pula diperankan oleh Giorgino Abraham, walaupun dalam hal ini masih ada kesan sinetron, tapi tak seberapa mengganggu. Ada pula Siti Helda Meilita yang tampil sebagai gadis manis, Nyimas, yang disukai oleh Dapunta. Di sini lagi-lagi Hanung membuktikan bahwa dia tidak alergi dengan pemain baru, bahkan bisa menjadi nilai plus.

Sumber Foto : http://hot.detik.com

Nuansa Lokal

Lahat yang menjadi latar cerita tertayang dengan indah dalam layar. Dialek asli pun tak ketinggalan turut menambah kental suasana “lahat”nya. Gaya hidup yang memang terkesan sangat keras berhasil dikesankan di sini. Tapi apakah memang sedemikiankah kehidupan sehari-hari di sana? Jika benar, saya sungguh baru tahu.

Sebuah kekayaan budaya yang sangat apik tampil lebih dari sekedar background, melainkan utuh masuk dalam jalinan cerita. Ini menegaskan bahwa budaya kita juga sangat-sangat menjual jika kita mampu mengemasnya dengan cantik.

Kita melihat indahnya Bromo dalam Tendangan Dari Langit, cantiknya alam Madura dalam Mestakung, pesona Nusa Tenggara Timur di Tanah Air Beta, dan kini pesona Sumatera Selatan di Dapunta Pengejar Angin.

Ganjalan

Terus terang saya merasa terganggu dengan selala hadir tokoh antagonis dalam cerita-cerita di film Indonesia. Apakah ini wajib ada? Saya rasa sangat elegan jika ditampilkan tokoh secara lebih manusiawi, dalam arti tiap orang bisa berbuat salah dan tiap orang bisa juga berbuat benar. Tiap orang bisa menjadi tokoh protagonis sekaligus antagonis dalam diri mereka. Nggak perlu lah diwujudkan tokoh2 yang terlahir untuk menjadi jahat. IMHO.

Dan

Film ini sangat sayang jika kita lewatkan, di sini tersirat banyak pesan moral. Sangat inspiratif bagi keluarga Indonesia. Yuk rame-rame nonton, mumpung masih tayang di bioskop (goodluck)

Sumber foto : http://kvltmagz.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
    1. Nggak salah nih Naz belajar dari ane? hehehe. Nggak terbalik tuh? kalau ane sih cuma modal pede aja kok Naz, tulisannya masih jauh dari bagus (goodluck)

    1. Kayaknya nggak deh Cipu, soalnya film ini kurang bagus di pasaran menurut pengamatan dan riset saya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan #hehehe. Mending beli DVD originalnya aja, mungkin 1-2 bulan ke depan udah keluar. Oh ya omong2 kapan balik ke tanah air nih?

    1. Benar sih bro, tapi saya lebih menyukai kalau film tuh nggak ada antagonisnya, seperti film-film Deddy Mizwar, cerita tetap enak untuk diikuti tanpa harus ada orang jahat di sana hehehe. IMHO (goodluck)

    1. Film Indonesia sekarang banyak kok yang bagus2, misalnya yang nggak alam lagi akan terbit adalah : Negeri 5 Menara, Hafalan Shalat Delissa, dll. Nonton akhi (goodluck)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.