Sharing

Selebrasi Pertama di Sekolah Alam Indonesia

August 21, 2019

Yang langsung muncul dalam ingatan ketika saya mendengar kata “SD” (Sekolah Dasar) adalah bayangan wajah-wajah guru dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan sifat dan keunikan masing-masing. Ada guru yang demikian penyabar, dan ada pula yang super galak. Terlintas juga wajah teman-teman SD saya, dari yang sangat sohib hingga musuh bebuyutan hehehe.

Lantas, saya coba mengingat kembali apa yang paling berkesan dari proses belajar mengajar selama di SD? Hmmm… Untuk pertanyaan ini saya harus berpikir agak lebih keras untuk bisa mendapatkan jawabannya.

Iya benar. Proses belajar mengajar nggak ada yang terlalu berkesan. Ketika mencoba mengingatnya saya malah terbayang ruangan kelas yang berisi jajaran rapi bangku dan meja kayu berisi siswa berpakaian seragam merah putih serta seorang guru yang duduk di depan kelas. Di sampingnya terhampar papan tulis hitam yang lebarnya nyaris menutupi seluruh dinding kelas.

Yang pasti, ketika SD kita dituntut untuk bisa menulis dan membaca dengan lancar, hafal perkalian 1 hingga 10, hafal nama-nama provinsi di Indonesia (saat itu masih 27 provinsi hehehe), hingga hafal nama-nama menteri. Proses belajarnya sendiri saya nggak ingat. Yang penting bisa hafal, ya kan?

Jangan tanya ya saya waktu SD itu tahun berapa #UmpetinKTP

Sekolah Alam Indonesia

Ketika saya hanya memiliki kenangan datar tentang proses belajar selama di tingkat sekolah dasar, di saat yang bersamaan saya menyaksikan sekumpulan anak-anak dengan pakaian bebas berwarna-warni berlarian ke sana-ke mari. Ada bersama mereka dua orang guru, yakni seorang guru laki-laki dan seorang guru perempuan. Semua terlihat tertawa lepas. Duh senangnya mereka.

Mereka bukanlah anak-anak yang tengah berdarma wisata atau pun study tour, mereka adalah anak-anak sekolah dasar yang tengah belajar di sekolah mereka, iya benar. Mereka sedang belajar.

Sebelumnya tidak terbayang sama sekali dalam benak saya ada proses belajar mengajar di sekolah yang sedemikian menyenangkan, sambil berlarian di lapangan, sambil berkotor-kotor dengan tanah, sambil bermain air, atau sambil menaiki jembatan bambu yang disediakan sekolah.

Anak-anak beruntung itu adalah siswa-siswi Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cipedak, tempat Syifana, anak saya yang pertama, saat ini bersekolah. Kadang ada rasa iri dalam benak saya, mengapa di jaman saya belum ada sekolah semacam ini ya? Kalau ada pasti sangat menyenangkan bersekolah di sana.

Eh tapi apa iya anak-anak kita bisa belajar sambil bermain-main begitu? Bagaimana caranya? Kok bisa?

Project Base Learning (PJBL)

Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cipedak menggunakan metode PJBL sebagai cara pembelajaran. Mengenai apa itu PJBL bisa disimak di sini.

Sederhananya PJBL adalah merupakan metode pembelajaran yang menggunakan suatu kegiatan (project) sebagai sarana bagi anak untuk dapat belajar banyak hal (eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan mengumpulkan informasi). Metode ini menjadikan anak sebagak “subyek” pembelajaran, bukan sekedar ditempatkan sebagai “obyek” sebagaimana metode pembelajaran konvensional.

Dengan metode ini diyakini siswa dapat bebas melakukan riset yang lebih mendalam pada suatu permasalahan atau pertanyaan dengan hasil yang lebih berbobot, nyata, dan relevan dengan keadaan.

Di SAI tiap semester akan dilaksanakan 2 atau 3 project.

Lantas bagaimana metode ini diterapkan pada anak kelas 1 SD?

Nah, selama 6 pekan pertama bersekolah, Syifana dan anak-anak kelas 1 SD di SAI mendapatkan proyek yang berjudul “Pesona Minangkabau”. Syifana diperkenalkan dengan budaya Minangkabau yang sangat menjunjung tinggi adab dan ahlak mulia.

Bahwa adab itu lebih penting dari ilmu disampaikan dengan cara penyajian kisah Malin Kundang. Bahkan ada juga dramanya lho. Atau ada juga pengenalan falsafah Minangkabau terkait adab ini yang lebih dikenal dengan istilah Kato Nan Ampek. Falsafah ini memuat adab kepada yang lebih tua (Kato mandaki), adab kepada yang lebih muda (Kato Manurun), adab kepada orang yang kita hormati dan segani (Kato Malereang), dan adab kepada teman sebaya (Kato Mandata).

Syifana juga dikenalkan dengan rumah gadang, rumah adat khas Minangkabau. Khusus untuk materi ini pihak SAI mendatangkan nara sumber orang Minang asli untuk menjelaskannya. Satu-dua kosakata Minang pun diperkenalkan dan dijadikan yel-yel harian di kelas.

“Bagaimana kabar hari ini?

“Alhamdulillah. rancak bana!”

Oh ya, Syifana juga diperkenalkan lho dengan makanan ringan Minangkabau yang bernama Sala Lauak. Tidak hanya diperkenalkan, ia dan teman-teman sekelasnya bahkan langsung membuat sendiri panganan gurih berbahan dasar tepung beras ini. Tentu saja dengan didampingi dengan guru dan beberapa orang tua murid yang secara sukarela membantu. Masak-masak di kelas, gimana nggak heboh? 🙂

Oh ya mengenai peran orang tua di SAI bukan sekedar pihak yang menerima rapi hasil cucian dari tempat laundry, tapi juga sebagai pihak yang ikut memilih deterjen yang paling baik, alat mencuci yang terbaik, juga bagaimana sama-sama mengeringkan pakaian sampai hingga ia terlipat rapi setelah disetrika. Peran orang tua di SAI sangatlah intens.

Lihat saja ketika awal-awal proses belajar dimulai, orang tua siswa turut membantu menyiapkan segala perangkat dan peralatan yang di butuhkan di kelas, seperti rak buku dan dispenser yang ada di kelas. Tentu saja semua ini dilakukan bersama-sama dengan para guru. SAI menyebutnya sebagai Community Base.

PJBL Plus ala SAI

Nah, penerapan PJBL di SAI tetap ada plus nya. Karena siswa tetap diajarkan dengan pelajaran khas ala SAI, seperti belajar membaca Alquran (Metode Arrisalah), pengenalan Bahasa Inggris melalui buku dan lagu, belajar Bahasa Arab, pengenalan ayat-ayat Alquran yang terkait dengan PJBL, matematika dengan menggunakan stik ice cream, dan tentu saja kegiatan outbond yang dilakukan sekali dalam sepekan.

Kita tidak akan menemukan jadwal mata pelajaran di SAI, karena pelajaran yang disajikan benar-benar dinamis menyesuaikan dengan project yang sedang berjalan. Namun memang ada yang terjadwal dengan pasti setiap minggunya, seperti kegiatan outbond yang dilakukan setiap Hari Selasa.

Presentasi dan Selebrasi

Setiap kali selesai dalam sebuah project tiap anak diharapkan bisa melakukan presentasi atas project yang telah dia lakukan selama 6 pekan ini. Jangan berpikir presentasi yang berat-berat dulu, sebab untuk anak kelas 1 SD mereka hanya diminta untuk membuat presentasi proses pembuatan topi khas Minangkabau bersama masing-masing orang tua.

Materi presentasi yang diminta pun hanya berupa satu lembar A3 yang memuat foto-foto selama proses pembuatan topi Minang tersebut. Khusus anak perempuan namanya adalah Topi Gonjong.

Proses pembuatan topi gonjong ini pun seru karena melibatkan orang tua. Langkah pertama dan yang paling wajib untuk memulai membuat topi ini bagi saya adalah mencari tutorial pembuatannya di You Tube hehehe. Tanpa ini kayaknya kami bakalan kesulitan dalam membuatnya nanti. Langkah selanjutnya baru kami mencari segala perlengkapan yang dibutuhkan.

Alhamdulillah ketemu sebuah toko pernak-pernik yang sangat lengkap di Pasar Depok Jaya (Jalan Nusantara Depok). Di sini kami menemukan manik-manik berwarna emas beraneka bentuk. Syifana memilih bentuk bunga dan kupu-kupu. Di sini pun kami menemukan bordiran bermotif dan rumbai berbentuk daun dengan warna emas, sepertinya akan cocok sekali untuk bagian tepi penutup atas topi yang kami rencanakan akan berwana merah.

Taraaa... inilah topi gonjong buatan Syifana bersama ayah dan bunda.

Selama proses pembuatan Bunda Elsi Santi dengan sigap mengabadikan setiap momen yang menarik. Hasilnya inilah 7 foto terpilih sebagai materi presentasi Syifana. Dia akan mempresentasikan ini di depan kelas.

Berselang dua hari dari waktu presentasi, tibalah waktu selebrasi. Selebrasi adalah sebuah istilah untuk momen perayaan setelah diselesaikannya sebuah project. Di saat inilah orang tua siswa diperkenankan hadir dan menyaksikannya.

Ada aksi puisi dan nyanyian untuk selebrasi anak-anak kelas 1 ini. Semua anak berpakaian ala Minangkabau lengkap dengan topi yang mereka buat masing-masing bersama orangtuanya.

Semua anak tampak ceria. Mereka antusias memperkenalkan tentang Minangkabau kepada setiap orang tua yang hadir dan bertanya kepada mereka. Ada yang bertanya tentang Rumah Gadang, kato nan ampek, hingga Sala Lauak yang tampak disajikan di salah satu sudut kelas. Syifana kebagian tugas menjadi penerima tamu di bagian depan kelas.

Selebrasi ini tidak hanya dirayakan oleh anak-anak kelas 1. Semua kelas juga turut merayakannya. Uniknya tiap kelas mengusung tema yang berbeda. Untuk TK B mengambil tema “Permainan Tradisional Jawa Barat”, Kelas 2 “Warisan Budaya Ponorogo”, Kelas 3 “Cahaya dari Negeri Aceh”, Kelas 4 “Jogja Istimewa”, Kelas 5 “Pahlawanku Teladanku, dan Kelas 6 “Enjoy Jakarta”.

Bayangkan kemeriahan yang terjadi hari itu di SAI. Semua anak-anak dengan pakaian daerah yang beraneka ragam ditambah dengan kehadiran orang tua yang ingin menyaksikan kebolehan anak-anak mereka. Hari itu layaknya tergelar sebuah festival budaya Nusantara.

Buat kami selaku orang tua menjadi ikutan excited untuk next PJBL. Hal baru apa lagi yang akan dipelajari anak-anak kami di sekolah. I just can not wait!

Siswa SD Kelas 3 yang mengusung tema “Cahaya dari Negeri Aceh”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.