Sharing

Shaf Paling Depan untuk Siapa?

November 7, 2011
Sumber foto : http://ustadzrofii.files.wordpress.com

Bukan karena orang yang mengerti benar masalah fiqih, bukan pula karena merasa lebih dalam memahami ilmu, bukan… tulisan ini cuma lahir dari rasa keadilan yang terusik, rasa keadilan hamba-hamba di hadapan-Nya atas kesemena-menaan otoritas kedudukan, jabatan, dan harta

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Gema takbir entah kenapa selalu membuat hati ini bergetar-getar aneh. Getar itu melukiskan perasaan antara terharu, merasa kecil, merasa begitu banyak dosa, dan rasa-rasa lainnya yang sulit untuk didefinisikan secara harfiah (scenic)

Pagi itu takbir bersahutan mengiringi langkah saya menuju ke masjid dalam rangka menunaikan shalat Idul Adha.Β Nggak mau rugi saya sudah mengambil wudhu sejak dari rumah, bayangkan tiap langkah kita terhitung pahala lho. Kalau nggak ambil wudhu jalan kaki begini jauh pasti rugi banget #ambil kalkulator #eh (okok)

Pukul 06.06 Saya sudah tiba di halaman depan masjid. Beberapa jamaah tampak sudah mengisi shaf-shaf (barisan) di luar ini. Wah artinya ruangan utama masjid sudah penuh nih. Karenanya saya mempercepat langkah dan bergegas menaiki tangga ke ruang utama masjid. Wow… memang benar. Sekilas tampak ruangan utama ini sudah penuh, tapi Alhamdulillah, lewat pengamatan saya yang luar biasa cermat saya berhasil menemukan space untuk 1 orang #edisilebay. Saya pun segera mengambil alih tempat itu (yahoo)

Selesai menunaikan shalat penghormatan kepada masjid (tahiyatul masjid), saya baru menyadari terhampar di hadapan saya pemandangan yang sama persis dengan semua masjid-masjid lainnya yang pernah saya singgahi, yaitu 1-2 shaf terdepan dikosongkan. Huff, pasti ini disediakan bagi para pejabat atau tokoh masyarakat yang “akan” hadir nanti (doh)

Entahlah ini selalu saja sangat mengganggu bagi saya. Mungkin bagi masyarakat umum ini adalah sesuatu yang wajar memberikan tempat terhormat di shaf terdepan bagi para pejabat dan tokoh, tapi bagi saya ini sudah terlalu berlebihan.

Sumber Foto : http://cissiausti.blogspot.com

Bukankah shaf terdepan adalah diperuntukkan bagi siapa pun yang hadir paling awal? yaitu orang-orang yang memang menempatkan posisi shaf terdepan sebagai prioritas utama karena mengerti dan menyadari akan tinggi dan agungnya nilai dan pahala di sisi-Nya.

Shaf terdepan bukanlah untuk mereka yang menang pilkada, pembantu presiden, atau pun mereka yang memiliki kekayaan nomor sekian di dunia, ya kan? Β  (taser)

Bayangkan ketika semua jamaah sudah sedemikian memenuhi masjid, shaf-shaf terdepan itu masih dikosongkan untuk mereka yang “mungkin” saat ini masih baru siap-siap berangkat dari rumah mewahnya atau bahkan baru bangun dari tidur pulasnya??? (idiot)

Entah sampai kapan budaya seperti ini akan terus dipertahankan. Bukankah lebih elegan jika “sang tokoh” duduk di shaf belakang bersama rakyatnya jika memang ia datang tidak terlalu pagi. Bukankah ini justru akan menjadi “nilai plus” baginya bahwa ia adalah tokoh yang mau berbaur dengan masyarakat? Atau para tokoh dan pejabat kita ini terlalu paranoid akan keselamatan diri mereka? bahkan di tengah-tengah rakyatnya sendiri? Hmm… ironis #menghelanapas

Bagaimana menurut kamu tentang fenomena ini? Boleh dong berbagi di sini πŸ™‚

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
    1. Amien ya Rabb… Semoga banyak donatur yang tergerak hatinya untuk meringankan biaya untuk Maryati. Berharap ke para pejabat, ah hanya buang waktu saja bro…

  1. Setuju mas Iman, hirarki masih dipertahankan meski sudah dalam mesjid. Padahal kan di hadapan Allah semuanya sama, yang membedakan adalah taqwanya

    1. Eh ada Mbak Ajeng… hehehe apa kabar Galaxy tab nya mbak? #lho #dikeplak

      Bener mbak, rindu akan adanya pejabat yang nggak arogan nih πŸ™‚

  2. Kalau itu mungkin masih “lumayan” mas, artinya itu shaf kan dah “pesanan” walaupun nggak pernah ada contoh dari Rasulullah kecuali shaf tepat di belakang imam adalah khusus badal/pengganti imam. Herannya, di antara kita banyak lo yang disuruh mengisi shaf yang masih kosong di depan..nggak mau justru memilih shaf paling belakang..atau bahkan yang di luar..di jalanan.. aneh jadinya, malah kadang nyuruh orang lain untuk mengisi shaf depannya.. padahal jika kita tau fadhilah shaf depan maka kita akan merangkak untuk berebut shaf depan.. hmmm endonesa..

    salam kenal mas.. πŸ™‚
    tetap menginspirasi..!

    1. Selamat datang Darmanto, salam kenal juga dan makasih ya sudi mampir bro πŸ™‚

      Wah benar juga ya, negara kita memang banyak anomali ya. Kenapa malah nggak mau menempati shaf terdepan? Hmm padahal pahalanya luar biasa #geleng2

  3. waktu tinggal di asrama dulu, setiap 5 waktu wajib berjamaah di musholla. dan teman-teman selalu berlomba lomba menempati shof paling depan. Karena rupanya aja joke yang sering di dengungkan. Shaf pertama hadiahnya sapi. shaf kedua hadiahnya kambing. shaf ketiga dan seterusnya, hariahnya ayam!!
    hehehee tentu saja semua pingin dapat Sapi atau kambing
    kalo dapet ayam…kan kecil banget.

    herannya lagi, kenapa shaf pertama gak dapet Unta aja ya?
    hehehhee

  4. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa arti penting dari shaf shalat yang lurus dan rapat mengandung filosofi atau gambaran kesatuan bangsa…

    tuk masalah di depan atau di belakang bagi para elit politik.. bisa dan setuju setuju ajja kang saiia πŸ™‚

    1. Benar bro, lurus dan rapatnya shalat memang syarat kesempurnaan shalat bersamaaan. Dan itu juga merupakan masalah tersendiri dalam aplikasinya di masyarakat. Tentang shaf terdepan yg terbaik itu. Kompleks ya #hehehe

  5. Opa Iman jangan risau kalau Alris jadi pengurus mesjid pasti ketentuannya siapa yang datang duluan pastilah dia yang berhak menempati shaf terdepan, hehehe…
    Kalo menurutin kata hati emang sebel juga sih liat kelakuan kayak gitu, kayak dia aja yang ngebangun mesjid.

  6. “Shaf terdepan bukanlah untuk mereka yang menang pilkada, pembantu presiden, atau pun mereka yang memiliki kekayaan nomor sekian di dunia, ya kan?”

    setuju sama tulisan diatas! πŸ˜‰

  7. tapi Allah jg tau masbro siapa yg dateng paling dulu meskipun ga nempatin paling depan. Allah jg tau tipikal mesjid Besar di Endonesa..mau di shaf depan mesti femes bin menjabat dulu…

    1. Iya sih yang di atas tau, tapi tetap aja ini budaya yang nggak patut dilestarikan sama sekali, ya kan? Jadi penginapan femes deh #eh

  8. Shaf terdepan tentu buat siapa saja yang MAU mendapat pahala terbaik. Cuma sayang KULTUR kita umumnya masih banyak yang merasa MALU untuk duduk/berdiri di depan persis sama seperti saat diundang di acara-acara seremoni, upacara bendera atau bahkan kuliah. He he he, so tidak melulu karena PROTOKOLER panitia/pengurus masjid. Itu pendapat PRIBADI saya lho, Mas πŸ˜€

    1. Kalau shaf terdepan dikosongkan saya rasa bukan masalah rasa malu untuk maju di shaf terdepan deh mas, ini memang karena panitia sengaja mengosongkannya untuk para tokoh dan pejabat itu. Untuk jamaah di kota-kota besar yang pemahaman agamanya sudah baik tentu nggak akan malu maju ke shaf terdepan. IMHO ya mas hehehe

  9. ied adha kemarin aku juga sudah berwudlu dari rumah dan berniat mau jalan kaki ke tanah lapang desa. jarak dari rumah saya sekitar 1 km. tapi saya kemudian urung jalan kaki karena diajak naik mobil milik pak haji tetangga. tidak enak kalau menolak tawaran orang tua hehehe.

    sesampai di tanah lapang saya tidak duduk di shaf terdepan. sebenarnya ada sela di shaf depan, tapi saya tidak enak berpisah dengan rombongan semobil

    1. Hehehe walaupun pakai kendaraan atau pun jalan kaki pastilah tetap dihitung setiap langkah kita. Para malaikat pasti punya alat canggih dong untuk mengkonversi putaran roda menjadi jumlah langkah kaki (goodluck)

      Nah, ini nih bro. Padahal mah maju aja atuh ke depan kan nanti pas pulang gabung lagi sama rombongan #maksadotcom (haha)

  10. setuju.. inilah Budaya FEODALISME terbawa-bawa.. Yang ningrat (baca : pejabat) otomatis didepan.. rakyat yang merasa “abangan” (walau saya tak suke istilah ini) selalu pengen dibelakang, duduk, nyender, tidur, gampang keluar, gampang nyari sendal dan gampang kembali jualan kakilima didepan masjid.

    Betul2 aneh!

  11. fenomena ini sangat menyedihkan, yah? Mbok yang pejabat itu kalau mau di depan datang lebih awal? Ini kok ajdi kayak analogi, mau memahami karakter masyarakat kita itu dengan kualitas shalatnya. Duh, inget kelemahan diri πŸ™

  12. sangat setuju dengan kata-kata bang iman “Bukankah shaf terdepan adalah diperuntukkan bagi siapa pun yang hadir paling awal? yaitu orang-orang yang memang menempatkan posisi shaf terdepan sebagai prioritas utama karena mengerti dan menyadari akan tinggi dan agungnya nilai dan pahala di sisi-Nya.”

    shaff paling depan adalah yang paling utama, dan hak untuk yang datang lebih awal,

    jika shaff depan merupakan penghormatan yang diberikan kepada para pejabat, berarti penghormatan itu bertolak belakang dengan kaidah yang seharusnya

    *opini πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.