Sharing

Sulitkah Berterima Kasih?

January 4, 2012

Sumber Gambar : jurnalforex-solehudin.blogspot.com

Mau bahas hal yang mungkin sepele bahkan nggak penting untuk sebagian orang. Tapi menurut saya besar sekali artinya bagi orang yang menerimanya 🙂

Awalnya kejadian sekitar beberapa hari lalu ketika harus naik bus transjakarta untuk kembali ke kantor di Slipi setelah mengunjungi klien. Alhamdulillah saya dan rekan kantor saya dapat menikmati bangku kosong di dalam bus berpendingin udara ini. Kami berdua duduk di bagian belakang dengan cukup nyaman.

Di salah satu halte serombongan anak sekolah dan mahasiswa masuk ke dalam bus yang saya tumpangi. Walhasil bangku bus langsung terisi penuh. Beberapa penumpang dan sebagian pelajar tadi akhirnya berdiri.

Salah seorang pelajar berambut keriting yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat saya duduk tampak asyik membaca komik. Tanpa dia sadari beberapa helai lembaran komik yang dia baca terjatuh ke lantai bus. Spontan saya langsung memberi tahu si pelajar bahwa lembaran komiknya ada yang jatuh ke lantai bus. Sontak dia pun segera memunguti lembaran-lembaran komik tersebut dan merapikannya ke dalam tasnya. Akhirnya ia asyik membaca komiknya kembali tanpa menoleh lagi ke arah saya, apalagi mengucapkan terima kasih. Errr… (doh)

Mengucapkan terima kasih, mungkin nggak terlalu sulit untuk dilakukan. Entah kenapa budaya luhur ini kian luntur saja

Padahal ucapan yang begitu ringan di lidah ini begitu berharga untuk orang yang menerimanya lho, ya kan? #ngotot (goodluck)

Banyak kejadian keseharian kita yang mungkin tanpa kita sadari membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada seorang pun yang sedemikian powerfull mampu melakukannya sendirian (rock)

Ingatkah kita untuk berterima kasih kepada pak satpam yang membukakan pintu gerbang? kepada pramusaji di tempat makan langganan kita? Kepada petugas karcis di gerbang tol? Kepada seseorang yang telah menunjukkan arah jalan ketika kita tersesat? Kepada petugas kebersihan di toilet umum? Kepada orang-orang yang telah membantu kita walaupun itu sedikit dan kecil nilainya?

Ah, sepele memang. Tapi saya yakin ini sangat berarti buat mereka. Jika kita ucapkan tulus dari hati kita, niscaya akan juga sampai ke hati yang menerimanya (scenic)

Bagaimana dengan teman-teman? Pernahkah lupa untuk sekedar berterima kasih? (worship)

    1. Dulu iya, tiap kerja saya naik bus transjakarta. Sekarang saya motoran ke mana2 hehehe. Salam kenal juga ya Tina, makasih udah mampir (worship)

    1. Benar bro, padahal bisa jadi ucapan terima kasih yang ringan diucapkan itu menjadi pahala juga lho untuk kita karena menyenangkan hati orang lain 😀

  1. wah, iya, mas Iman…sepertinya ada degradasi karakter 🙁
    jangan2 orangtua sekarang makin sibuk jadi ngga sempat mengajarkan hal2 ‘sepele dan ngga penting’ seperti ini kepada anak2nya (thinking)

    nice posting, mas…terimakasih ya 🙂

  2. iya iya..
    sekarang sepertinya udah langka ya.
    atau budaya kita yang kurang sering mengajarkan anak anak untuk bilang terima kasih pada setiap kesempatan yaa

    biasanya kan ibu ibu ngajarin anaknya untuk bilang terima kasih HANYA ketika menerima sesuatu (pemberian)

    jarang diajarkan untuk terima kasih setelah menerima bantuan sekecil apapun

    apa bener gitu ya?

  3. Menurut saya sih ada 2 faktor yang menyebabkan hal tersebut: 1) Bagaimana seseorang dididik oleh orangtua dan keluarganya, termasuk soal pembentukan moral, karakter, dan kesholehan.
    2) Lingkungan pergaulan yang setiap hari mempengaruhi karakter dan kebiasaan orang tersebut.

    Kalo dari kecil udah dididik untuk berterima kasih, niscaya lebih mudah kata tersebut terucap. Apalagi, dengan lingkungan yang saling berterima kasih, niscaya hal baik ini juga menjadi kebiasaan yang mudah untuk dilakukan.

    Terima kasih untuk pengingatannya mas!

    1. Wah analisanya keren nih, seperti pak dosen aja hehehe (haha)

      Pola pendidikan keluarga dan lingkungan memang sangat berperan besar dalam karakter dan sikap keseharian kita. Makasih ya udah mampir 🙂

  4. tapi ya.. ada orang dengan gampang bilang terima kasih dan malah kesannya jadi sekedar basa-basi loh.. jadi sekedar lipservice.. cuma buat nyenengin yang denger..

    so.. mending yang mana? bilang makasih di saat benar2 merasa berterima kasih..
    atau membiasakan bilang terima kasih setiap saat..

    *mendadak inget mpok minah yang hobi ngomong maap* (lmao)

    1. Kalau cuma lip service aja saya juga kurang setuju deh Luv, bagaimana pun sebaiknya ucapan terima kasih ini sebaiknya keluar dari hati alias kesadaran kita yang akan keluar secara spontan. Mungkin kesadaran ini ya yang belum terlalu membudaya (goodluck)

  5. memang tak bisa disalahkan secara sepihak kepada pelajar itu mas Iman, terkadang lingkungan sekitarnya, terutama keluarganya yang “mungkin” tidak pernah memberikan teladan kepadanya. kadang di sekolahnya juga tidak pernah dicontohkan oleh para gurunya..

    oleh karena itu, untuk menghilangkan rasa jengkel kita.. tak usah diambil pusing, yang penting kita berbuat baik.. entah itu mereka terima kasih atau tidak.. don’t care about it..

    satu lagi mas Iman, yuk di mulai dari diri kita.. insya Allah akan banyak yang mencontoh.. amin.. 🙂 🙂

  6. kami sangat berterima kasih jika sesepuh matasinemawatch ini mau untuk sekedar melihat bahkan berkomentar apalgi mengulas (nglunjak), film pendek komunitas “sandal selen” Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Bumiayu-Brebes, yang saya posting di Pojok Pradna ^_^

  7. Ucapkan dengan sungguh-sungguh dg perasaan terbantu, perasaan syukur mendapat kebaikan. Jgn sepelekan satu hal kebaikan walau sekedar wajah yang cerah. (HR Muslim). Jika wajah yg cerah aja dilarang utk diremehkan, apatah lagi sebuah pertolongan atau hadiah-hadiah yg tulus didapat.. :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.