Review

Embun di Atas Daun Mapel; Novel Islami Berlatar Kanada

By on December 15, 2014

 

Embun ditas Daun Maple

Adalah sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan mendapat kepercayaan untuk membaca dan mengulas sebuah novel buah tangannya yang pertama diterbitkan langsung dari sang penulis. Sahabat saya ini, Hadis Mevlana, memang sejak awal saya kenal sebagai seorang pecinta buku dan sastra. Dia sangat kritis terhadap apa yang telah dibacanya. Terkadang dia melihat sebuah karya sastra dari sisi yang berbeda, yang tak ladzim dilihat dari pembaca awam seperti saya.

Saya mengenal Hadis Mevlana dengan nama Maulana Hadi. Kami sama-sama bertemu di salah satu grup milis sebuah Film yang diangkat dari novel islami. Dalam beberapa kesempatan Hadi memperlihatkan kemampuannya dalam berpuisi. Sebenarnya tak hanya itu, Hadi juga memiliki bakat  yang tidak bisa dipandang sebelah mata di bidang tarik suara. Dan ternyata dia juga pandai dalam menulis novel. Ah, sahabat saya ini memang multi talenta. Semoga Allah senantiasa memudahkan ia berkarya dalam barakah.

NOVEL EMBUN DI ATAS DAUN MAPEL

Saya termasuk yang paling antusias demi mengetahui Hadi berhasil menerbitkan novelnya. Genre apakah yang akan ia usung? Apakah romance? petualangan? action? Rasa penasaran ini begitu menggebu, apalagi sang penulis menjanjikan akan mengirimkan langsung buah karyanya ini kepada saya.

(6026)

Continue Reading

Review

Cinta Suci Zahrana

By on July 16, 2012
Sumber : pai-umy.blogspot.com

Saya membuat tulisan ini bukan karena novel yang berjudul Cinta Suci Zahrana  ini akan segera tayang filmnya pada 15 Agustus mendatang, melainkan karena bagi saya tema yang diangkat memang sangat-sangat unik dan menarik. Tema ini jarang diangkat oleh penulis-penulis novel islami pada umumnya, yaitu kesetaraan gender. Disamping itu tentu saja sang penulis novel ini yaitu Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) adalah juga merupakan salah satu penulis yang karya-karyanya selalu saya ikuti.

CERITA

Dewi Zahrana, seorang wanita yang telah berusia 34 tahun. Sosok jenius dan pecinta ilmu. Ia banyak menyabet penghargaan baik dalam negeri maupun luar negeri atas segudang prestasinya di bidang arsitektur. Kecerdasan, hati yang lurus, dan sifatnya yang pantang menyerah menghantarkan Zahrana ke puncak kesuksesan sebagai seorang akademisi.

Zahrana telah membuktikan bahwa seorang wanita pun mampu menapaki jenjang yang tinggi dalam karier dan prestasi akademis. Kendati demikian ia tetaplah sosok yang rendah hati dan selalu mencoba menebar kebaikan ke setiap orang di sekitarnya.

Kang Abik mencoba mempertarungkan segenap kesuksesan Zahrana tersebut terhadap posisi Zahrana sebagai seorang wanita yang hidup di tengah kultur timur. Seorang wanita berusia 34 tahun yang masih melajang tetaplah dianggap sebagai sebuah “kesalahan” sekalipun ia memiliki segunung prestasi dan kemampuan.

(1469)

Continue Reading