Sharing

Selebrasi Pertama di Sekolah Alam Indonesia

By on August 21, 2019

Yang langsung muncul dalam ingatan ketika saya mendengar kata “SD” (Sekolah Dasar) adalah bayangan wajah-wajah guru dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan sifat dan keunikan masing-masing. Ada guru yang demikian penyabar, dan ada pula yang super galak. Terlintas juga wajah teman-teman SD saya, dari yang sangat sohib hingga musuh bebuyutan hehehe.

Lantas, saya coba mengingat kembali apa yang paling berkesan dari proses belajar mengajar selama di SD? Hmmm… Untuk pertanyaan ini saya harus berpikir agak lebih keras untuk bisa mendapatkan jawabannya.

Iya benar. Proses belajar mengajar nggak ada yang terlalu berkesan. Ketika mencoba mengingatnya saya malah terbayang ruangan kelas yang berisi jajaran rapi bangku dan meja kayu berisi siswa berpakaian seragam merah putih serta seorang guru yang duduk di depan kelas. Di sampingnya terhampar papan tulis hitam yang lebarnya nyaris menutupi seluruh dinding kelas.

Yang pasti, ketika SD kita dituntut untuk bisa menulis dan membaca dengan lancar, hafal perkalian 1 hingga 10, hafal nama-nama provinsi di Indonesia (saat itu masih 27 provinsi hehehe), hingga hafal nama-nama menteri. Proses belajarnya sendiri saya nggak ingat. Yang penting bisa hafal, ya kan?

Jangan tanya ya saya waktu SD itu tahun berapa #UmpetinKTP

Continue Reading

Sharing

Mengejar Sekolah Alam Indonesia Cipedak

By on April 2, 2019

Bermula pada Februari 2017 lalu, ketika Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cipedak menggelar acara open house. Saat itu kami, saya dan istri, sedang galau-galaunya mencari sekolah untuk anak kami yang pertama, Syifana, yang telah menginjak usia 4 tahun. SAI Cipedak ini menjadi salah satu sekolah yang kami lirik. Kebetulan acara ini digelar weekend, saya pun berencana untuk datang ke sana.

Di Hari-H kami pun langsung menuju ke TKP.

Kami yang bertempat tinggal di Kalibata berjarak sekitar 13-15 km ke SAI membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk menuju ke SAI Cipedak. Dengan bantuan Google Maps alhamdulillah kami dengan mudah menemukan lokasinya.

Dari jalan utama, Jalan Kahfi 1, ternyata kami harus masuk ke jalan yang lebih kecil, yakni Jalan Pembangunan. Sudah banyak mobil terparkir di sisi-sisi jalan ini. Petugas parkir tampak sibuk mengatur mobil yang satu-persatu terus berdatangan untuk mendapatkan area parkir masing-masing. Akhirnya kami pun berhasil mendapat tempat parkir kendati di luar lokasi sekolah. Kami masih harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk masuk ke area sekolah.

Cuaca pagi itu cerah. Berjalan kaki ke area sekolah cukup kami nikmati. Kami sempat melewati pintu gerbang hutan kota, hutan yang dilindungi milik Pemprov DKI. Wow ternyata SAI Cipedak ini bertetangga dengan hutan kota. Jaminan bagi penghuni sekolah untuk dapat menghirup udara yang bersih dan segar.

Kakak Syifana dan dedek Falisha nampak sangat menikmati acara jalan kaki bersama ini, demikian juga dengan bundanya. Semakin dekat dengan gerbang sekolah, namun masih belum nampak gedung sekolah yang berdiri megah. Seperti apakah sekolah alam itu? Rasa penasaran pun makin menjadi.

Continue Reading