Review

Review Film Pengabdi Setan (2017)

By on October 9, 2017

 

“Hal ini menjadi sebuah ganjalan besar buat saya pribadi. Kematian sang ustadz menjadi seolah hilangnya tiang pegangan akan apa itu kebenaran dalam film ini. Apakah pesan yang memang ingin disampaikan adalah bahwa kebenaran tidak selalu menang? Atau memang Agama itu sendiri adalah bukan kebenaran yang hakiki?

Hal ini menurut saya menjadi hal yang sangat sensitif”

 

Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik untuk menonton film-film bergenre horror, tapi kali ini saya dibuat penasaran dengan banjirnya pujian pada salah satu film horor besutan anak negeri yang saat ini tengah tayang, yakni Pengabdi Setan. Yup, saya memang ketinggalan 11 hari setelah tayang perdana 28 September lalu, sebelas hari yang sangat gaduh membahas film ini.

Sempat gagal menonton film ini Jumat lalu karena kehabisan tiket, membuat saya makin penasaran dengan film ini. Alhamdulillah kemarin saya bersama keluarga sukses menonton film ini di posisi yang nyaman berkat sebuah perjuangan untuk membeli tiket jauh lebih awal. Untuk ini bisa dikisahkan untuk menjadi sebuah FTV sendiri hehehe.

ROLLER COASTER

Saya cukup setuju banyak yang menyatakan menonton film ini layaknya naik roller coaster. Penonton dibuat jungkir balik dengan adegan mengejutkan yang terjadi secara beruntun, namun setelah itu penonton dibuat menahan napas untuk menunggu adegan mengejutkan lainnya yang terkadang ditahan beberapa saat untuk dimunculkan secara tiba-tiba.

Perasaan semacam ini memang tidak asing kita rasakan sebagaimana ketika kita menonton beberapa film horror besutan Hollywod semisal Conjuring, Insidious dan lainnya. Tapi ketika menyadari ini adalah Film Indonesia, yah bolehlah sedikit berbangga.

(6749)

Continue Reading

Review

Review Film Gerbang Neraka (2017)

By on September 20, 2017

Lama tidak menyaksikan film bergenre horor, saya cukup antusias ketika mendapat undangan pemutaran sebuah Film Indonesia bergenre ini. Walaupun dahi saya sempat mengernyit melihat jajaran pemain yang salah satunya adalah (lagi) Reza Rahadian, saya tetap antusias untuk menonton film ini.

Judul film ini adalah “Gerbang Neraka”, cukup seram memang. Film ini disutradarai oleh Rizal Mantovani yang pernah sukses melalui film Jelangkung (2001) dengan raihan penonton hingga 5.7 juta orang. Sedangkan untuk jajaran pemain pun tidak main-main, deretan pemain kelas atas terlibat di dalamnya, seperti Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Rey Sahetapy dan juga Lukman Sardi.

Sang produser, Robert Ronny, sepertinya terlihat sangat serius menggarap film ini. Konon kabarnya film ini digarap sejahk 2015. Wow! Ia menjanjikan film ini bukanlah bukan film horor biasa, karena film ini juga mengandung unsur petualangan, science fiction, drama, sekaligus sejarah. Karena memang film ini mengambil latar belakang Situs Gunung Padang yang adalah salah satu situs sejarah yang kita miliki.

(686)

Continue Reading

Review

Review Film Galih dan Ratna (2017)

By on March 3, 2017

Oh Galih… Oh Ratna… cintamu abadi
Wahai Galih… Duhai Ratna… Tiada petaka merenggut kasihmu

 

Entah kenapa lagu gubahan Mas Guruh Soekarnoputra ini begitu melekat di ingatan saya. Soundtrack film Gita Cinta dari SMA yang “pecah banget” di tahun 1979 ini memang telah sedemikian melegenda hingga hari ini. Lagu ini bahkan telah beberapa kali dibuat ulang. Duh jadi ketahuan deh umur saya hehehe.

Ketika mendapat kabar dari kicauan @cipukun sekitar Desember lalu bahwa film ini akan dibuat ulang, saya cukup excited. Saya sangat penasaran untuk mengetahui bagaimana kisah Galih dan Ratna akan tampil di era milenial ini.

Film yang berjudul Galih dan Ratna ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Seorang sutradara muda yang pernah menyabet beberapa penghargaan internasional. Sebut saja Best Southeast Asian Short Film untuk Film The Fox Exploits the Tiger’s Might di Singapore International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film festival di tahun 2015. Beberapa film garapannya yang pernah tayang di bioskop tanah air di antaranya Madam X (2010) dan Selamat Pagi Malam (2014).

Apa yang sebenarnya membuat Film Gita Cinta dari SMA (1979) begitu memiliki greget untuk dinikmati dan cocok sebagai tontonan remaja Indonesia? Menurut saya sebagai penikmat film yang awam, nggak lain dan nggak bukan adalah “bagaimana mereka menyatakan dan menunjukkan rasa suka satu sama lain dengan cara malu-malu namun jujur dan tulus”. Inilah yang seolah hilang di zaman sekarang. Semua dilakukan dan dinyatakan secara frontal dan seolah tanpa seni. Inilah juga yang mungkin oleh orang tua kita disebut sebagai budaya dan sopan santun ketimuran khas Indonesia.

Dan ini yang bikin saya penasaran banget untuk menyaksikan remake Galih dan Ratna ini.

(2669)

Continue Reading