Review

Cinta Suci Zahrana

By on July 16, 2012
Sumber : pai-umy.blogspot.com

Saya membuat tulisan ini bukan karena novel yang berjudul Cinta Suci Zahrana  ini akan segera tayang filmnya pada 15 Agustus mendatang, melainkan karena bagi saya tema yang diangkat memang sangat-sangat unik dan menarik. Tema ini jarang diangkat oleh penulis-penulis novel islami pada umumnya, yaitu kesetaraan gender. Disamping itu tentu saja sang penulis novel ini yaitu Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) adalah juga merupakan salah satu penulis yang karya-karyanya selalu saya ikuti.

CERITA

Dewi Zahrana, seorang wanita yang telah berusia 34 tahun. Sosok jenius dan pecinta ilmu. Ia banyak menyabet penghargaan baik dalam negeri maupun luar negeri atas segudang prestasinya di bidang arsitektur. Kecerdasan, hati yang lurus, dan sifatnya yang pantang menyerah menghantarkan Zahrana ke puncak kesuksesan sebagai seorang akademisi.

Zahrana telah membuktikan bahwa seorang wanita pun mampu menapaki jenjang yang tinggi dalam karier dan prestasi akademis. Kendati demikian ia tetaplah sosok yang rendah hati dan selalu mencoba menebar kebaikan ke setiap orang di sekitarnya.

Kang Abik mencoba mempertarungkan segenap kesuksesan Zahrana tersebut terhadap posisi Zahrana sebagai seorang wanita yang hidup di tengah kultur timur. Seorang wanita berusia 34 tahun yang masih melajang tetaplah dianggap sebagai sebuah “kesalahan” sekalipun ia memiliki segunung prestasi dan kemampuan.

(1519)

Continue Reading

Review

Film Negeri 5 Menara Yang Kurang Gereget

By on March 5, 2012

Sumber : syaifuddin.com

Mendapatkan kesempatan untuk menonton film yang paling ditunggu beberapa waktu terakhir ini adalah sebuah anugerah buat saya. Ahad lalu (4/03) Alhamdulillah saya dan beberapa kawan MataSinema mendapatkan undangan nonton bareng Film Negeri 5 Menara dari salah satu provider berita online boleh.com. Tidak hanya nonton film, kami pun berkesempatan untuk melihat langsung dan berkenalan dengan penulis novel (Ahmad Fuadi), sutradara (Affandi Abdul Rahman), penulis skenario (Salman Aristo) dan juga beberapa pemain utama film ini yang sengaja dihadirkan oleh penyelenggara.

Menonton film ini tanpa sebelumnya membaca novelnya merupakan keuntungan tersendiri buat saya karena bisa melihat film ini tanpa ekspektasi tertentu dan juga (semoga) bisa menikmati film ini lebih jernih.

Ruh film ini sepertinya ada satu kalimat pendek ber bahasa arab yang berbunyi “Man Jadda wa Jada” yang memiliki arti kurang lebih “Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Kalimat tersebut seringkali diulang di film ini seolah muncul sebagai charger tiap kali sang tokoh di film ini sedang dalam kondisi lemah. Mirip seperti istilah “all is well” dalam Film Three idiot.

(2537)

Continue Reading

Review

Ketika Mas Gagah Pergi… dan Kembali (New KMGP)

By on October 20, 2011

Jika ada sebuah cerpen islami yang membuat saya jatuh cinta, itu adalah cerpen Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Jika ada pengarang wanita di tanah air yang hingga kini masih saya kagumi dia adalah Mbak Helvy Tiana Rossa (HTR). Dan jika  ditanya majalah remaja apa yang membuat saya sedemikian tertarik untuk mengenal Islam lebih jauh, jawabnya adalah Annida. Ketiganya begitu terpatri kuat dalam memori saya.

Cerpen yang dikemas ulang dalam sebuah novellet ini kini bertajuk “Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali”, di ranah online lebih dikenal sebagai #NewKMGP.  Mengalami pengembangan yang cukup signifikan dari hanya sekitar 15 halaman ketika versi cerpen kini menjadi 64 halaman.

Apa jadinya cerpen favorit saya ini dibuat versi extendednya (novellet)? Wow yang pasti saya merasa amat sangat excited. Dan karenanya sangatlah wajar jika ekspektasi saya langsung melambung, terbayang akan keindahan dan keagungan cerpen ini.

(17083)

Continue Reading