Review

Review Film Preman Pensiun (2019)

January 19, 2019

“Ini adalah bisnis yang bagus tapi tidak baik,carilah bisnis yang bagus sekaligus juga baik” (Kang Bahar)

t

Sinetron Preman Pensiun yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi ini sempat menjadi primadona di masyarakat. Daya pikat utama sinetron ini adalah pada kedekatan antara kisah yang ditayangkan di layar televisi pada realita keseharian di masyarakat. Masyarakat merasa terwakili dengan adegan demi adegan yang ditayangkan. Bahasa dan karakternya pun terasa membumi dan sangat hidup. Apalagi sinetron Preman Pensiun ini bergenre komedi yang tentu saja sangat menghibur bagi penonton. Terasa sekali keampuhan tangan dingin almarhum Didi Petet untuk membuat sinetron ini menjadi memiliki kelas tersendiri, tidak terjebak dalam arus deras sinetron yang menjual kemewahan dan gaya hidup yang sangat jauh dari realitas di masyarakat.

MNC Movie tidak ingin menyiakan kesuksesan sinetron ini untuk dibuat dalam versi layar lebar. Film ini juga ditujukan sebagai penghormatan kepada almarhum Didi Petet sebagai penggagasnya. Bagaimana Preman Pensiun dalam bentuk film ini? Apakah terjebak hanya mengejar sisi komersial karena potensi pasar yang besar atau mampu mempertahankan nyawa dan orisinalitas cerita versi sinetronnya?

Film Preman Pensiun

Kursi sutradara sekaligus penulis naskah masih diduduki oleh Aris Nugraha yang juga menangani versi sinetronnya. Wajar jika versi filmnya ini masih terasa sekali sisi orisinalitasnya. Bedanya kali ini dengan durasi yang lebih panjang serta konflik cerita yang lebih rumit.

Diawali dengan adegan pertemuan terakhir “geng preman” yang dipimpin Kang Mus bersama seluruh anak buahnya. Mereka menyepakati dan berikrar untuk meninggalkan dunia premanisme dan mencari nafkah yang baik dan halal. Kemudian adegan berpindah ke masa 3 tahun setelah pertemuan tersebut. Film ini memperlihatkan bagaimana kehidupan tiap mantan preman ini saat ini dengan segala kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi.

Waktu 3 tahun ini memang mengubah begitu banyak hal dalam kehidupan tiap personal mantan anggota “geng preman Kang Mus” ini. Hanya satu yang tetap sama, yakni mereka tetap merasa sebagai satu keluarga dan tetap begitu menaruh hormat kepada sosok Kang Mus. Semua berjalan begitu menyenangkan bagi semua orang hingga suatu saat terjadi sebuah bentrokan di sebuah pasar yang akhirnya mengubah segalanya.

Karakter dan Pemain

Masih diisi oleh para pemain “asli” Preman Pensiun, kembali hadir Epi Kusnandar yang tampil sebagai Muslihat alias Kang Mus yang merupakan tokoh sentral dalam film ini. Kemampuan akting seorang Epi Kusnandar sudah tidak perlu diragukan lagi. Epi begitu piawai menghidupkan sosok Kang Mus menjadi begitu nyata, mengikat secara emosional kepada setiap penontonnya.

Begitu juga pemain yang lain masih mempertahankan para pemain aslinya untuk memerankan tokoh-tokoh yang sudah begitu akrab bagi penonton setia sinetronnya.

Karakter-karakter yang begitu unik dan menggelitik mampu hadir begitu kuat berkat dukungan pemain-pemain yang memang pas dalam memerankannya. Lihat saja duet Murad (Deni Firdaus) dan Pipit (Ica Naga) yang di setiap kehadirannya pasti mengundang tawa penonton. Atau Mang Uu (Mang Uu) yang di sepanjang film ini berbicara dalam kosa kata Bahasa Inggris singkat namun begitu kocak. Ada juga sosok Emak (Isye Sumarni) yang selalu bawel dan menuntut macam-macam hal sepele kepada Kang Mus. Emaklah satu-satunya yang mampu membuat tunduk seorang Kang Mus. Atau sosok Ujang (M Fajar Hidayatullah) yang selalu sigap dan sangat amanah sebagai pusat informasi dan komunikasi di internal keluarga “mantan preman” ini.

Sosok lainnya adalah Kinanti (Tya Arifin) sang putri bungsu Bahar (Alm. Didi Petet), Gobang (Dedy M. Jamasari) dan Dikdik (Andra Manihot) sebagai mantan bawahan Kang Mus, Ceu Esih (Vina Ferina) sebagai istri Kang Mus, dan juga Ceu Edoh (Edoh Nining Yuningsih) PRT di rumah Kang Mus yang lugu dan polos.

Semua karakter ini begitu menyatu dalam cerita sehingga penonton terasa ikut masuk dan terlibat dalam cerita. Ini mungkin salah satu keunggulan film ini, bagi penonton yang belum menyaksikan versi sinetronnya pun bisa langsung akrab dengan tiap tokoh dalam film ini.

Komedi 

Kendati bercerita tentang preman, film ini sangatlah jauh dari sosok-sosok kriminal yang mengerikan dan kejam, bahkan film ini menampilkan sosok-sosok lucu namun tetap setia dan memiliki prinsip untuk menjunjung tinggi kekeluargaan di antara mantan preman di bawah asuhan Kang Mus. Tiap karakter begitu unik dan menggelitik. Komedi yang ditampilkan sederhana namun cukup mengena dan jauh dari kesan “garing”.

Drama Mengena

Di sepanjang 94 menit film ini tidak hanya komedi yang ditampilkan, melainkan juga kisah drama yang menurut saya cukup bisa menguras sisi emosional kita dalam beberapa adegan.

Saya pribadi paling terenyuh dalam adegan terakhir, ketika Kang Mus berteriak ke langit, mencoba mengadukan semua kegalauan hatinya kepada Kang Bahar. Adegan ini epik banget menurut saya.

Kang Mus Sang “Godfather”

Film ini memfokuskan pada kisah bagaimana keseharian Kang Mus di rumah pasca pensiun sebagai “Bapaknya para Preman”. Selain sebagai sosok yang sangat ditakuti dan disegani oleh anak buahnya ternyata Kang Mus juga seorang ayah yang begitu mengkhawatirkan anak gadisnya yang mulai pacaran. Ia begitu overprotective terhadap sang anak, sehingga tanpa ia sadari maksud baiknya itu malah membuat sang anak malah merasa terganggu. Film ini juga mengisahkan usaha dia yang selalu mendukung sepenuh hati atas segala ikhtiar mantan anak buahnya untuk menjalani kehidupan baru mereka. Sosok Kang Mus digambarkan sebagai sosok dengan leadership yang sangat tinggi di mata anak buahnya, ditakuti sekaligus disegani.

Ending tak terduga

Kehidupan preman pada dasarnya adalah sebuah kehidupan yang keras. Hanya orang-orang yang tangguhlah yang mampu bertahan di sana. Kendati keras namun mereka semua memegang teguh prinsip dan kode etik yang memang mereka sepakati bersama. Begitulah ending yang ingin disampaikan di film ini, kendati tidak menyenangkan semua pihak namun semuanya adalah pilihan yang harus ditempuh.

Editing Dialog Bikin Pusing

Salah satu ciri khas sinetron Preman Pensiun yang juga dibawa ke dalam versi filmnya adalah saling bersahut-sahutannya dialog antar adegan yang berbeda-beda. Memang teknik penyajian dialog seperti ini bisa memangkas durasi film untuk menceritakan lebih banyak hal dalam waktu yang singkat, namun teknik penyajian dialog semacam ini juga seringkali membuat penonton pusing dan sulit untuk berkonsentrasi dan kehilangan fokus pada adegan yang disajikan.

Jika hanya sesekali teknik dialog seperti ini disajikan tidak apa-apa, tapi jika terus-menerus di sepanjang film dapat membuat penonton terganggu dan sulit berkonsentrasi pada adegan yang disajikan.

Repetisi Adegan

Lebih dari dua kali film ini menampilkan adegan Kang Mus berlama-lama menggeliat malas setelah dibangunkan dari tidur oleh sang istri. Adegan ini cukup lucu untuk dilihat pertama kali, namun jika beberapa kali diulang sepertinya membosankan buat penonton.

Pesan Kang Bahar

Ini semacam wasiat yang dipegang teguh dan diamalkan oleh Kang Mus, yakni pesan terakhir Kang Bahar untuk menjaga, membimbing dan mengawasi sepenuhnya anak buahnya, terutama setelah meninggalkan dunia per”preman“an. Amanat ini coba dipegang teguh oleh Kang Mus.

Film ini bertutur kepada kita tentang betapa tidak mudahnya untuk menjalani kehidupan yang lurus di tengah masyarakat dengan begitu banyak masalah dan kendala yang menghadang, setelah sebelumnya menikmati betapa mudahnya mencari uang sebagai preman. Tidak semua orang bisa lulus dalam ujian ini, tidak semua orang…

Jika kita di posisi mereka, kita masuk ke dalam golongan yang lulus ujian atau tidak?

Dari saya film ini mendapat 7.5 bintang dari 10


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.