Sore, Istri dari Masa Depan (2025): Cinta itu timeless

by | Jan 27, 2026 | Film, Review | 0 comments

Yup, enam bulan setelah film yang tahun lalu menghebohkan jagad persinemaan Indonesia ini, baru sekarang saya membuat reviewnya. Tayang di layar bioskop Indonesia awal Juli 2025 lalu film ini menjadi topik hangat perbincangan para pecinta sinema Indonesia. Banyak yang bahkan menyebut Sore sebagai tanda bahwa Film Indonesia kini telah naik kelas.

Menyaksikan film ini bukan di layar bioskop, melainkan di salah satu platform streaming video, mungkin agak sedikit berbeda ya atmosfernya. Tapi setidaknya kenikmatan menonton Sore masih bisa saya rasakan kendati berkurang vibes nya di bandingkan dengan di bioskop. Tentu.

CINTA

Apa kita pernah membayangkan sekuat apa cinta sejati itu? setangguh dan seberdaya apa? Sepertinya film Sore Istri dari Masa Depan ini mampu menjawabnya dengan baik.

Benar. Ternyata cinta sejati sekuat dan setangguh itu.

sebelum melihat sosok Sore, mungkin kita tidak membayangkan bahwa seseorang bisa sekuat dan setabah itu memperjuangkan cintanya, bahkan ketika harus berputar-putar dalam time-loop yang tak berkesudahan. Lingkaran waktu yang kita ketika menyaksikannya saja sangat merasa lelah dan jenuh, apalagi untuk menjalaninya.

SORE

Hai, saya Sore, istri kamu dari masa depan.”

Sore dengan gaun biru yang sama, tampil puluhan kali dalam film ini dengan mengucapkan dialog yang sama. Luar biasanya Sheila Dara mampu menampilkannya dengan puluhan ekspresi dan emosi yang berbeda pula. Terkadang senang dan ceria, terkadang jenuh, terkadang sangat letih, dan di lain waktu bisa menjadi sedih atau marah. Emosi yang dirasakan oleh Sore seakan bisa menembus layar dan menyentuh hati kita.

Lelah. Sorot mata Sheila seakan mampu meneriakkan itu dengan sangat lantang dan jelas ketika puluhan, mungkin ratusan atau ribuan kali dia harus mengulang untuk memperjuangkan cintanya.

“Kalau harus mengulang ribuan kali pun, aku akan tetap memilih kamu.”

JONATHAN

Adalah Jonathan, sosok yang diperjuangkan oleh Sore. Seorang pemuda yang hidup tanpa arah dan tujuan hidup. Ia membiarkan hidup mengalir begitu saja. Karenanya ia menjalaninya dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak dirinya. Merokok, minum, dan begadang merupakan menu harian yang kerap menghiasi hari-harinya. Pekerjaannya sebagai fotografer tidak mempermasalahkan gaya hidup demikian. Yang terpenting dia memperoleh hasil jepretan yang ciamik dan tentu saja bisa dijual, itu sudah cukup baginya.

Kendati demikian, Jonathan yang diperankan secara totalitas oleh Dion Wiyoko ini tetap memiliki idealisme. Ada nilai-nilai yang ingin dia sampaikan dalam setiap jepretannya. Semisal tentang kegelisahannya akan perubahan iklim. Kendati kurang bisa dijual dia tetap melaju dengan jepretan bertema tersebut.

Kehidupan “tidak jelas” yang dijalani Jonathan ternyata memiliki latar belakang yang sangat kuat. Hubungannya dengan Sang Ayah (Mathias Mucus) yang ternyata tidak baik-baik saja mempunyai andil besar dalam perilaku dan langkah hidup Jonathan.

WAKTU

Kepedihan kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan membersamai selama 5 tahun itu ternyata sedemikian berat untuk seorang Sore. Dalam kepedihan yang entah berapa dalam tersebut, entah keinginan apa yang Sore panjatkan saat itu sehingga Sang Waktu akhirnya memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Sang Waktu berwujud sebagai aurora merah pekat yang menghiasi langit, menghadirkan kesan gelap namun penuh kekuatan. Yandy Laurens lagi-lagi dengan gaya khasnya mengeksekusi ‘manis namun powerfull’ baik secara visual maupun kedalaman makna.

Kendati film ini bergenre drama romansa, namun balutan nuansa fiksi ilmiahnya terasa sangat kuat, bahkan untuk sebagian penonton terasa sangat mendominasi.

Elemen waktu hadir dalam posisi yang sangat penting dalam film ini. Sejajar dengan Sore dan Jonathan. Kekuatannyalah yang mampu memberikan kesempatan bagi seorang istri yang terpuruk dalam kehilangan, untuk bisa memperbaiki keadaan.

Namun waktu juga tidak mau menunggu selama itu. Kendati Sore terus dengan sabar menjalani putaran kesempatan itu dan kerap kali gagal, namun Sang Waktu tidaklah sesabar itu. Semua ada batasnya.

Yandy mampu menggiring kita untuk terus menekuni setiap lelah perjuangan Sore. Kita dibuat penasaran bagaimanakah ini semua akan berakhir. Bagaimana Sore bisa bertahan dengan semua itu yang seolah tak berujung.

Karena ini adalah juga merupakan sebuah film fiksi ilmiah, Yandy akhirnya mampu mengeksekusi sebuah konklusi yang cukup indah dan melegakan. Kendati tetap membuahkan perdebatan atas beragam teori yang bermunculan di antara penonton. Mungkin inilah memang yang diinginkan Yandy dalam film ini.

Jabatan tangan yang akhirnya menjadi puncak atas semua yang telah terjadi. Jabatan tangan yang menghadirkan kembali puluhan atau ratusan semesta yang telah dialami oleh Sore dan Jonathan dalam satu titik waktu.

Adegan ini menjadi jawaban atas semua rentetan derita yang Sore alami, semua menjadi begitu membahagiakan sekalipun penuh dengan air mata.

Bagi penonton tentu saja bisa melegakan, kendati lagi-lagi begitu banyak perdebatan atas teori atas apa yang sebenarnya terjadi.

SEDERHANA

Premis film ini sebenarnya sangat simpel dan sederhana. Sekuat apa pun keinginan kita untuk mengubah seseorang, maka ia tak akan pernah bisa berubah kecuali jika dia sendiri yang ingin mengubahnya. Namun demikian jika kekuatan untuk mengubah itu diiringi oleh rasa cinta maka akan ada keajaiban yang akan terjadi.

Ya, karena rasa cinta itulah yang mampu membimbing Jonathan untuk menemukan belahan jiwanya. Ia menuntun, Kendati membutuhkan waktu yang panjang dan rumit untuk menemukannya. Ia telah menemukannya kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.