Review

Film Rumah Tanpa Jendela (2011)

February 4, 2011

Merindukan kehadiran film untuk anak-anak?

Kangen dengan film musikal?

Ingin menonton film bertema sosial namun ringan dan menyenangkan?

Penasaran dengan film tentang anak special need yang begitu menyentuh tanpa menggurui?

Nonton film sambil berderma? Kok bisa?

Aneka pertanyaan di atas ternyata mampu dijawab oleh kehadiran sebuah film yang berjudul Rumah Tanpa Jendela. Bersyukur saya dan teman-teman MataSinema diberi kesempatan untuk hadir dalam pemutaran perdana film ini Kamis lalu (03/02/2011) di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) Rasuna Said, Jakarta Selatan. Thanks to Mbak Asma Nadia yang begitu welcome kepada kami. Nggak cuma Mbak Asma Nadia, ternyata Mas Aditya Gumay selaku sutradara sekaligus penulis skenario dan Mas Adenin Adlan (produser dan penulis skenario) juga begitu ramah dan berkenan ngobrol-ngobrol dengan kami. Oh ya nggak lupa ada Mbak Genta Windi. Mbak yang satu ini sejak semula aktif ngetwit dengan kami. Dia ini juga nggak kalah ramah lho. Semua kru dan personal film ini begitu hangat dan bersahabat (cozy) .

Film ini berdurasi 100 menit, terasa pas untuk sebuah tontonan keluarga karena nggak terlalu lama dan juga tidak terlalu sebentar. Hari itu dilakukan 2 kali pemutara film dan Alhamdulillah kami kebagian menonton pada penayangan perdana pada sekitar pukul 13.00 WIB.

Hampir seluruh pendukung film ini hadir, seperti Dwi Tasya, Emir Mahira, Raffi Ahmad, Yuni Shara, Atie Kanser, Varissa Camelia, Billy Davidson, Ouzan Ruz dan Indra Bekti. Acara hari itu diakhiri denga press conference, karenanya tidak heran begitu banyak wartawan yang hadir.

Komentar positif pun bermunculan dari kalangan wartawan. Memang patut diakui film ini sangat berbeda. Selain seluruh keuntungan film ini didedikasikan bagi penderita autis kurang mampu di tanah air, film ini juga sarat dengan nilai-nilai positif dengan kemasan yang sangat menghibur.

CERITA


Alam pikir seorang anak terkadang sulit kita pahami karena kesederhanaannya. Rara (Dwi Tasya) adalah seorang anak yang kurang beruntung secara ekonomi dan ia memiliki sebuah cita-cita yang amat sangat sederhana yaitu memiliki jendela di rumahnya. Sederhana banget ya (thinking) .

Namun keinginan sederhana ini menjadi terlalu mewah bagi Rara karena dia, ayah (Raffi Ahmad), dan neneknya (Ingrid Wijanarko) hanyalah tinggal dalam sebuah rumah berdinding kayu yang cukup untuk tidur saja. Itu pun masih disertai dengan ancaman penggusuran yang bisa terjadi setiap saat.

Di lain pihak ada Aldo (Emir Mahira) seorang anak yang termasuk special needs karena mengidap autis ringan. Aldo hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan bahkan terbilang berlebih. Karena kondisinya yang memang khususl ini Aldo kerap kali dianggap sebagai hal yang patut disembunyikan memalukan oleh keluarganya, terutama kakak perempuannya (Maudy Ayunda).

Aldo dan Rara pun dipertemukan dalam sebuah kejadian yang membuat keduanya akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan yang tak mengenal kasta ekonomi ini berlangsung dengan begitu indahnya. Rara merasa begitu beruntung dapat melihat rumah indah berjendela banyak milik Aldo, demikian juga dengan Aldo yang merasa akhirnya ia bisa diterima apa adanya oleh Rara dan teman-temannya. Banyak pelajaran dan nilai yang dapat kita tangkap dalam penggambaran persahabatan keduanya tanpa terasa dipaksakan karena mengalir dalam cerita yang begitu natural dan nyaman dinikmati (scenic) .

Beberapa adegan mengharukan dapat kita jumpai di film ini. Walaupun pemain tidak melulu berurai airmata dalam adegan-adegannya namun saya sebagai penonton beberapa kali harus mengambil tissue untuk mengeringkan mata yang tiba-tiba basah (tears) .

Sebagai film musikal tentu saja banyak keceriaan yang dihadirkan dalam film ini melalui kehadiran lagu-lagu. Ini pun ditampilkan dengan apik dan cukup menarik (banana_cool) .

PEMAIN


Sejak awal kehadiran Emir Mahira dalam film ini begitu memukau saya. Dia begitu ciamik memerankan tokoh Aldo yang menderita autis. Gerak tubuh hingga gaya bicaranya begitu natural dan menyentuh. Emir tampak benar-benar mempersiapkan diri memerankan ini secara matang. Salut untuk Emir, moga menjadi bintang di masa depan ya (rock) .

Tokoh Rara yang menjadi benang merah cerita film ini juga diperankan secara apik oleh Dwi Tasya. Terlihat Tasya sangat memahami dan mendalami karakter Rara dengan sangat baik dan natural. Ini luar biasa bagi seorang anak pendatang baru di dunia film.

Maudy Ayunda dan Ouzan Ruz yang berperan sebagai kakak dan abang Aldo juga cukup baik dalam membawakan peran mereka. Nah nggak lupa salah satu tokoh senior perfilman Indonesia kita yaitu Atie Kanser juga main lho di sini. Berperan sebagai nenek Aldo beliau mampu membuat film ini begitu hidup dan enak dinikmat. Bunda Atie begitu sukses menunjukkan diri sebagai nenek yang begitu pengasih kepada cucunya, sekalipun Aldo memiliki kekurangan (worship) .

Yang membuat film ini cukup heboh sebenarnya adalah kehadiran pasangan Raffi Ahmad dan Yuni Shara. Awalnya terus terang saya pribadi sudah under estimate terhadap kehadiran 2 pemain ini. Namun syukurlah keduanya mampu tampil dalam film ini dengan cukup baik. Raffi cukup memikat dalam memerankan ayah Rara, walaupun secara penampilan ia sebenarnya kurang pas menjadi sosok miskin yang berprofesi sebagai penjual ikan hias, namun Raffi membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh mampu menghadirkan sang ayah dengan baik dalam film ini. Yuni yang hanya tampil dalam beberapa scene juga tidak terlalu mengecewakan, bahkan terbilang cukup baik memerankan diri sebagai bude (tante) Rara.

Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda asuhan mas Aditya Gumay sangat memperkuat nafas film ini. Tak dipungkiri mereka mampu menghidupkan atmosfer alami dalam film ini.

MUSIKALITAS

Sebagai film musikal Aditya Gumay tidak main-main dalam mempersiapkan film ini. Sederetan lagu ia siapkan untuk menghidupkan adegan-adegan dalam film ini. Lagu yang ditampilkan pun nyaman untuk dinikmati sekali pun baru pertama kali mendengar.

Namun sederetan lagu yang tampil kebanyakan dinyanyikan secara bersama. Coba jika ada lead vocalnya, pasti akan lebih menarik lagi hehehe. Teringat Sherina dalam Petualangan Sherinanya (goodluck)

GAMBAR


Tata gambar cukup nyaman dan enak untuk dinikmati. Namun masih ada beberapa sudut pengambilan gambar yang terasa kurang pas, semisal pada adegan bernyanyi ketika hujan, alangkah indahnya jika gambar lebih banyak diambil dari atas yang menunjukkan indahnya warna-warni payung.

Beberapa adegan indoor kesan sinetronnya masih ada. Hmm saya bingung mau ngomongnya tapi mungkin perlu sedikit kreatifitas sudut pengambilan gambar atau tata cahaya sehingga kesan sinetron tersebut bisa diminimalisir (goodluck) .

NONTON SAMBIL SEDEKAH?

Film ini memang terbilang unik karena ternyata tidak memiliki tujuan komersil. Sepenuhnya (100%) penghasilan film ini didedikasikan untuk membantu anak-anak autis (specil needs) yang kurang mampu. Direktur utama Dompet Dhuafa sepenuhnya mendukung film ini antara lain dalam hal promosi.

Walaupun bertujuan sosial jangan pernah meragukan kualitas film ini. Anda bisa saksikan sendiri film ini yang digarap secara begitu piawai oleh sutradara idealis bertangan dingin Aditya Gumay. Setidaknya kita tentu masih ingat dengan Film Emak Ingin Naik Haji garapan sutradara yang sama dan berhasil menyabet banyak penghargaan dalam festival film Bandung dan Festival Film Indonesia.

Lebih detail mengenai ini dapat dilihat di http://proposalfilmrtj.blogspot.com

DUET IDEALIS ASMA NADIA-ADITYA GUMAY


Film ini merupakan kali kedua kerjasama antara Asma Nadia dan Aditya Gumay. Sebelumnya Film Emak Ingin Naik Haji pun sedemikian memukau para pecinta film di tanah air. Tema sederhana dan sangat dekat  dengan keseharian kita merupakan salah satu keunggulan duet ini. Ketika kita menikmati karya mereka berdua seakan memang ada kita di sana, di antara para pemain dan hiruk pikuk cerita dalam film mereka. Inilah yang mungkin acapkali dilupakan sineas kita yang lain.

“Begitu banyak sutradara yang mampu untuk membuat film yang bagus, tapi hanya sedikit yang mampu membuat film bernilai. Dan diantara yang sedikit itu adalah Aditya Gumay”. Ujar Mba Asma Nadia yang begitu terkesan akan idealisme seorang Aditya Gumay.

“Film dan novel adalah dua hal yang berbeda. Dan Aditya Gumay mampu membawa ‘semangat’ yang ada dalam novel ke dalam sebuah film dengan begitu baik. Saya merasa sangat puas dengan hasil filmnya”. Mba Asma menambahkan.

STRONGLY RECOMMENDED TO WATCH

Jangan pernah takut dan berhenti bermimpi. Bukalah mata hati dan pikiranmu sebagaimana jendela yang terbuka. Bersyukur atas segala yang kita miliki. Persahabatan mampu melampaui batas-batas ekonomi dan bahkan cacat atau tidaknya seseorang. Itulah antara lain sedikit dari begitu banyak nilai-nilai yang tersaji dalam ramuan Film Rumah Tanpa jendela ini. Banyak bekal yang bisa dibawa pulang memenuhi rongga nurani kita yang cenderung kering akan kepedulian sosial.

Film ini begitu indah dan bermakna untuk kita lewatkan begitu saja. Saya meyakini dibalik niat mulia dalam pembuatan ini yang ditujukan untuk kegiatan sosial ada begitu banyak berkah yang akan terus mengalir khususnya bagi dunia perfilman Indonesia yang sangat haus akan nilai-nilai kebaikan. Semoga…

Sumber Foto:

http://proposalfilmrtj.blogspot.com

http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net

http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net

http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  1. menarik sekali membaca review-nya. sepertinya harus meluangkan waktu untuk menontonnya. tapi kalo kelewatan yaah, masih bisa ke Glodok kan ya! *ditiban massa* 😀

    thanks for sharing!

    1. Tenang aja bro, film ini baru tayang di bioskop pada 24 Februari mendatang kok. Jadi masih banyak waktu untuk siap2 hehehe #lebay

      Wah ini pelem sosial lho, jangan beli bajakan ya #asahgolok

  2. Waahhh… mantaps,
    enaknya bisa nonton tayang perdana, belum dilaunching di bioskop pula (applause)
    dari ulasannya udah kebayang kalau ini film bagus, mudah2an bisa nonton nanti

    1. Alhamdulillah… ane juga nggak nyangka kok bisa ikutan. Ini kebetulan ada teman di MataSinema yang network di dunia filmnya luas banget, jadi kecipratan deh hehehe.

      Kalau untuk film RTJ ini sangat ana rekomendasikan deh untuk ditonton, apalagi kalau sama keluarga. Film ini bagus banget dari segala sisi nilai yang dibawa.

      Kalau mau ikutan, MataSinema akan adakan nobar film ini tgl 27 Februari nanti. Insya Allah Mas Aditya Gumay, Mbak Asma Nadia dan beberapa pemain akan ikutan datang. Tertarik?

  3. Terima kasih reviewnya. Mhn doa dan dukungannya ya… buka jendela hati untuk selalu berbagi, insya allah. Mulai dengan novel dan film Rumah Tanpa Jendela:) Terima kasih buat teman2 di Matasinema ya.

    1. Wah ada Mba Asma mampir di blog saya… Horee!!! #norak (funkydance)

      Insya Allah Mba Asma, kita full support deh untuk film2 tanah air yang memiliki muatan moral positif dan berkualitas seperti Film Rumah Tanpa Jendela ini (rock)

      Ditunggu karya2 bermutu Mba Asma Nadia selanjutnya ya (goodluck)

    2. Hai, teman saya sedang mencari DVD “Rumah tanpa Jendela”, boleh tau bisa beli dimana?

      Teman saya ini orang Australia, dia mengajar Bahasa Indonesia di Junior High School di Melbourne, dan untuk bahan ajaran 2012 mau menayangkan beberapa film Indonesia, termasuk RTJ.

      Saya berniat mengirimkan DVDnya dari Jakarta. Kalau ada yang bisa bantu memberitahu dimana bisa membeli DVDnya, saya sangat berterimakasih.

      1. Wah saya juga belum melihat ini di jual secara bebas. Akan saya bantu menghubungi mas Aditya Gumay ya. Salam kenal ya bro 😀

  4. dilihat dari review nya seh menraik ya bang…jadi pengin nonton triller nya donk di upload hehehe
    tayang perdana 24 februari 2011…hmmmm diambon tayang kapan yah *thinking so hard*
    hikkksss

    1. Dijamin nggak akan menyesal deh bro nonton film ini. Jika memang kita nggak terlalu suka nonton film maka niatkan aja ini untuk menyumbang dan beramal (goodluck)

      Memangnya di sana belum ada bioskop bro? Bisa kok, kalau serius dan benar2 ada massa yg ingin menonton saya bisa bicarakan ini dengan mas Aditya Gumay 😀

  5. Jadi ingat film musikalnya Sherina dan Joshua, semoga lebih baik. Pingin sih nonton sama anak, mana Fida sudah minta nonton film “Rindu Purnama” lagi 🙂 . Ya moga-moga abinya punya cukup duit buat bawa mereka ke bioskop, ada referensi bioskop murah di Depok? 😀

    1. Akhi, kebetulan barusan ane udah nonton Film Rindu Purnama. Menurut saya dari segi pesan dan cerita masih lebih bagus RTJ ini. Keunggulan Rindu Purnama adalah pada sinematografinya yang keren.

      Kalau mau nonton film RTJ, ikutan nobar bareng MataSinema aja bro, Insya Allah tgl 27 februari (tayang perdana di bioskop 24 februari), para pemain dan sutradara juga Insya Allah akan hadir 🙂

    1. Bener banget, ini adalah film keluarga yang sangat ideal untuk ditonton, kenapa? ada banyak alasan lho :

      1. Filmnya emang berkualitas
      2. Keuntungan film ini 100% untuk amal
      3. Ceritanya banyak mengandung hikmah dan pelajaran terutama untuk anak2

      Ayo rame2 ke bioskop tgl 24 nanti, atau ikutan nobar bareng MataSinema yuk tgl 27 🙂

    1. Iya film sekualitas Petualangan Sherina belum ada lagi nih. Moga Film RTJ ini mampu mengobati kerinduan akan film musikal keluarga yang bermutu ya (goodluck)

  6. asw.
    itu film anak-anak kan?
    alhamdulillah ada lg yang tergerak membuatnya,maklum kualitas film sekarng sgt tdk baik dilihat anak2 dan tdk mendidik..cerita ibu tiri rebutan harta,atau cerita topi ajaib dll
    oy salam ukhuwah..mampir ke gubung ana,tapi maaf tdk sebagus puya antum :mrgreen:

    1. Benar Erlin, ini adalah film idealis Aditya Gumay, Adenin Adlan, dan Asma Nadia (triple A) yang kita nggak usah ragukan lagi kualitasnya.

      Film musikal + film anak-anak + film berkualitas + film idealis + film dgn 100% keuntungan untuk disumbangkan = Film WAJIB tonton hehehe (goodluck)

      Ikutan yuk nobar film ini bareng MataSinema tgl 27 feb 2011 di blok M Square pukul 09.00 pagi (rock)

  7. Alhamdulillah mudah-mudahan dengan adanya film ini akan memberi nuanasa baru dalam perfilman kita yang selama ini selalu mengandalkan yang mistik-mistik dan jauh dari realita dan agama. Salam buat seluruh kru Film RUMAH TANPA JENDELA dan jangan pernah berhenti berkarya untuk film INDONESIA. (heart) (heart) 😀

  8. Salam Mas Iman, thx atas dukungannya terhadap film Rumah Tanpa Jendela ya. Thx juga buat semua teman-teman Mata Sinema.

    1. Salam Mas Adenin,

      Wah senangnya Mas Adenin sudi mampir di blog saya ini (worship)

      kami di MataSinema akan selalu mendukung semua film yang memang berkualitas dan memberikan pencerahan bagi bangsa (goodluck)

      Sukses selalu untuk mas Adenin dan Tim RTJ ya (rock)

  9. Kalau mau ikutan, MataSinema akan adakan nobar film ini tgl 27 Februari nanti. Kalau untuk film RTJ ini sangat ana rekomendasikan deh untuk ditonton, apalagi kalau sama keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.